Kedua mata Shalsabila menatap dalam kedua mata Saka, penuh kepedihan. Napasnya nyaris putus tak lagi tersambung. Karena keadaan kini baginya terlalu menyesakkan. “Terima kasih banyak untuk pembelajaran hidup yang sangat berharganya, Mas!” ucap Shalsabila yang kemudian menggeragap. Shalsabila kehabisan kata-kata dan tak mampu melanjutkan ucapannya. Karena jangankan bersuara, bernapas saja Shalsabila kesulitan. Shalsabila jadi terdiam untuk beberapa saat. Ia jadi kerap menghela napas pelan sekaligus dalam. “Iya ... aku akan bahagia. Selama ini aku sudah egois kepada diriku sendiri. Mas juga harus bahagia.” Akhirnya Shalsabila kembali bisa bicara seiring pikirannya yang kembali bisa diajak kompromi. Shalsabila mengakhiri ucapannya dengan senyum. Senyum yang teramat tulus dan ia lakukan d