PROLOG
Aiko menahan napas ketika kata pertama hampir meluncur terlalu keras. Ia sadar dirinya sedang berbicara dalam bahasa Indonesia, lalu segera menurunkan nada suara. Dengan bahasa Jepang ia bertanya pelan, “Ke mana saja kau selama ini?”
Takumi hanya menatap, matanya berkedip beberapa kali, wajahnya bingung. Tidak ada jawaban. Aiko menarik napas panjang lagi, menutup mata sejenak, lalu berkata, “Tolong jangan pura-pura tidak mengerti apa maksudku.”
Mata Takumi melebar. “Kau mengenalku?”
Aiko menahan diri, mengangkat alis, menatapnya dengan curiga. Laki-laki ini seolah tidak peka. Ia jelas bisa melihat Aiko sedang tidak dalam mood untuk bercanda.
“Kau mengenalku?” ulang Takumi, kali ini dengan nada mendesak.
Aiko menatapnya lebih lama, lalu bertanya datar, “Namamu Matsumoto Takumi?”
Takumi mengangguk. “Ya.”
“Kau fotografer, baru datang dari New York?”
“Ya.”
“Punya saudara kembar?”
“Tidak.”
Aiko berkacak pinggang. “Dan kau masih berani bertanya apakah aku mengenalmu?”
“Tunggu, aku...”
“Aiko-san.”
Aiko menoleh. Kitano Akira berdiri di belakangnya.
“Sensei.”
Akira tersenyum pada Takumi. “Oh, Takumi? Kau sudah datang rupanya.”
Aiko mengerjap, bergantian menatap Akira dan Takumi. “Sensei kenal dengan Takumi-san?”
Akira mengangkat alis. “Ya, dia temanku. Aiko-san juga?”
“Ya,” Aiko mengangguk. “Dia tetanggaku.”
“Tetanggamu?”
“Tetanggaku?” Takumi ikut bingung.
Aiko menoleh lagi ke Takumi. “Dengar, Takumi-san, aku sedang tidak ingin bercanda. Kalau kau tidak mau mengatakan ke mana kau selama ini, maka...”
“Tunggu dulu, Aiko-san,” potong Akira sambil menahan lengannya. “Sepertinya ada yang harus kujelaskan lebih dulu.”
Aiko tetap berkacak pinggang, menatap Akira dengan heran.
“Kau bilang Takumi ini tetanggamu?” tanya Akira sekali lagi, menunjuk Takumi yang menatap mereka bergantian.
“Apartemennya tepat di sebelahku. Dia sudah membuatku—dan semua orang—khawatir karena menghilang tanpa kabar sejak Hari Natal.”
Aiko melempar tatapan kesal ke Takumi. Ia teringat ucapan Takumi di stasiun waktu itu.
“Dan sekarang dia memasang wajah tidak berdosa.”
“Aiko-san.” Suara Akira pelan, mencoba menenangkan.
“Apa.”
“Dia benar-benar tidak mengenalmu.”
Aiko mengangkat alis. Ia kira salah dengar. “Apa?”
“Dia benar-benar tidak mengenalmu.”
Aiko terdiam. Bingung. Akira melirik Takumi yang masih menatap penuh minat.
“Aku pernah cerita tentang temanku yang mengalami kecelakaan buruk dan hilang ingatan, bukan? Dialah orangnya. Matsumoto Takumi.”
Aiko tercengang. “Apa?”
Kali ini ia yakin dirinya salah dengar.
Namun Takumi tetap berdiri di sana, wajahnya polos, seolah menunggu penjelasan lebih lanjut. Aiko menatapnya lama, mencoba mencari tanda-tanda kebohongan. Tidak ada. Tatapan itu jujur, meski kosong.
Akira melanjutkan dengan suara rendah, “Dia kehilangan sebagian besar ingatannya. Termasuk orang-orang yang pernah dekat dengannya.”
Aiko merasakan dadanya sesak. Semua rasa marah yang tadi menumpuk berubah jadi kebingungan. Ia ingin berteriak, tapi suaranya tertahan.
Takumi akhirnya membuka mulut, pelan, “Aku... benar-benar tidak tahu siapa kau.”
Ruangan terasa hening. Aiko menatapnya, lalu menunduk. Ia tidak tahu harus percaya atau tidak. Yang jelas, semua yang ia pikirkan tentang Takumi selama ini runtuh dalam sekejap.