BAB 8

1181 Kata
“Oneesan, Itsuki sudah pulang?” tanya Aiko sambil melangkah masuk ke apartemen 102. Hikari menutup pintu dan menyusul Aiko ke ruang tamu. “Belum. Sepertinya hari ini dia akan pulang malam.” Alisnya berkerut sedikit ketika mengamati Aiko. “Kau sedang flu, ya? Suaramu sengau.” “Ya,” gumam Aiko lesu. Ia sudah merasakan gejala flu sejak pagi dan sudah minum obat, tetapi ternyata tidak berpengaruh karena keadaannya tidak membaik. Ia mengembuskan napas keras dan duduk di salah satu bantal yang ada di lantai ruang tamu. Ia menopangkan siku di atas kotatsu* dan mengeluh, “Bagaimana ini?” Ia menoleh ke arah Hikari dan baru menyadari tetangganya itu berpakaian rapi. “Oneesan mau pergi?” Hikari menatap bayangannya di cermin bulat yang tergantung di dinding. “Ya. Pergi makan malam dengan teman.” Setelah bentuk rambutnya dianggap sempurna, Hikari menoleh menatap Aiko. “Ngomong-ngomong, kenapa kau mencari Itsuki?” Aiko berdiri dan menghampiri Hikari dengan ekspresi merajuk. “Aku mau memintanya mengganti bola lampu di apartemenku.” “Oh,” gumam Hikari sambil mengangguk. “Bola lampu sebelah mana?” “Ruang duduk.” Aiko belum pernah mengganti bola lampu dan Hikari sama saja. Selama ini mereka selalu meminta bantuan Itsuki untuk melakukan pekerjaan semacam itu. Itulah keuntungan punya saudara laki-laki. Bisa dimintai tolong. “Itsuki belum pulang,” ulang Hikari. “Bagaimana dengan Takumi-san?” Aiko menggeleng. “Belum pulang juga.” Hikari mendecakkan lidah. “Ke mana semua pria itu saat dibutuhkan?” gerutunya. “Ada Kakek,” kata Aiko sambil tersenyum geli begitu teringat Kakek Osawa. “Tapi aku tidak tega memintanya memanjat-manjat tangga demi mengganti bola lampu.” Hikari tertawa kecil. “Berarti kau harus menunggu salah satu dari kedua pria muda dan kuat itu pulang. Tidak ada pilihan lain.” “Tapi, Oneesan, apartemenku gelap gulita,” Aiko mengerang. Ia tidak suka gelap. Ia takut gelap. Memang usianya sudah 25 tahun, tapi apa boleh buat? Sampai sekarang ia masih harus menyalakan lampu kecil kalau tidur. “Jangan berlebihan,” kata Hikari sambil mengenakan jaketnya. “Hanya ruang dudukmu yang gelap. Kamar tidurmu tidak.” “Oneesan mau pergi sekarang?” tanya Aiko dengan nada cemas. “Teman-temanku sudah menunggu,” kata Hikari. Ia berjalan ke jendela dan menyibakkan tirai. “Di luar masih hujan deras,” kata Aiko, berharap Hikari akan menunggu hujan reda sehingga ada yang menemaninya di sini. “Aku bisa bawa payung,” kata Hikari sambil mengangkat bahu. “Tidak enak kalau aku sampai datang terlambat.” Ia berjalan ke pintu dan mengenakan sepatunya. Kemudian ia menoleh dan menambahkan, “Tentu saja kau boleh menunggu di sini kalau kau mau.” “Oneesan, tunggu dulu! Tepat pada saat itu lagu Fly High-nya Hamasaki Ayumi terdengar nyaring. Nada dering ponsel Aiko. Ia cepat-cepat menjawab. “Moshi-moshi?” “Aiko-chan!” Terdengar suara riang di seberang sana dengan latar belakang suara hujan. Alis Aiko terangkat. “Takumi-san?” “Aiko-chan,” panggil Takumi sekali lagi. “Sedang apa?” “Tidak sedang apa-apa.” “Apa yang terjadi dengan suaramu?” “Hanya sedikit flu. Ada apa meneIepon?” Sebelum Takumi sempat menjawab, Aiko melanjutkan lagi, “Ah, aku tahu. Setiap kali mau meminta bantuan kau selalu memanggilku Aiko-chan.” “Bingo!” seru Takumi gembira. “Walaupun baru bertetangga dua minggu, ternyata kita sudah bisa saling memahami. Aku senang sekali.” Aiko tertawa hambar. “Baiklah, ada apa?” “Aiko-chan, kau tahu sekarang sedang hujan?” “Ya—” “Aku baru turun dari bus dan sekarang sedang duduk menunggu di halte bus.” “Lalu?” “Hujannya deras sekali.” “Lalu?” “Bukankah sudah jelas? Aku tidak membawa payung dan aku sudah kedinginan. Aku bosan menunggu hujan berhenti. Ditambah lagi hujannya tidak mau berhenti-berhenti.” Takumi berhenti sejenak dan berdeham. “Jadi, kau bisa menjemputku?” “Menjemputmu? Takumi buru-buru meralat, “Mengantarkan payung untukku. Bisa? Tolong? Aku bersedia menemanimu sepanjang Hari Natal ... oh, kau akan pulang ke Kyoto pada Hari Natal, ya? Kalau begitu aku akan menemanimu sepanjang malam Natal minggu depan kalau kau mau mengantarkan payung untukku.” Aiko tidak butuh waktu lama untuk berpikir. “Tunggu di sana. Aku akan datang.” “Ada apa dengan Takumi-san?” tanya Hikari yang ternyata belum pergi. Ia heran menatap Aiko yang buru-buru mengenakan sepatunya kembali. “Dia lupa membawa payung dan tidak bisa berjalan pulang dalam hujan sederas ini,” jelas Aiko cepat. “Jadi kau mau menjemputnya?” Aiko mengangguk. “Lebih cepat dia pulang, lebih cepat dia bisa membantuku memasang bola lampu baru.” Lalu seakan baru terpikir akan sesuatu, ia menambahkan sambil menggerutu, “Dan bukan karena aku berharap dia menemaniku pada malam Natal.” *** Takumi duduk di bangku panjang yang tersedia di halte bus sambil memandangi hujan yang turun dengan lebat. Tidak mungkin ia bisa berjalan pulang tanpa membuat dirinya basah kuyup dari ujung rambut sampai ujung kaki. Tentu saja kalau ia menerima tawaran Paman Hiroshi yang ingin meminjamkan mobil untuknya, ia tidak perlu berdesak-desakan di kereta atau bus dan tidak perlu berbasah-basah ria. Tetapi tidak apa-apa. Memang ini yang diinginkannya. Ia mengembuskan napas dan memerhatikan uap putih yang keluar dari mulutnya seperti asap rokok. Ia menggigil kedinginan. Tadi ia sudah menelepon Aiko dan gadis itu bilang sendiri kalau ia bersedia datang menjemputnya. Jadi Takumi hanya perlu menunggu dengan sabar. Sebuah bus berhenti di halte dan beberapa penumpang turun sambil memegang payung masing-masing. Takumi meringis. Sepertinya hanya ia sendiri yang tidak mempersiapkan payung. Dulu ia memang tidak pernah membutuhkan payung. Ia selalu mengendarai mobil sendiri ke mana pun ia pergi. Ia memerhatikan orang-orang yang baru turun dari bus itu membuka payung dan langsung berjalan menembus hujan. Pulang ke rumah masing-masing. Tinggal seorang laki-laki bermantel cokelat panjang yang sedang membuka payung hitam besar. Takumi sekilas memerhatikan laki-laki yang berdiri di sampingnya itu. Masih muda, mungkin sebaya Takumi, dengan rambut hitam yang dipotong pendek dan rapi, wajah kurus, dan tubuh tidak terlalu tinggi. Wajahnya memang tidak setampak aktor terkenal, tapi orang-orang yang melihatnya pasti akan berpikir laki-laki itu orang yang ramah dan suka tertawa. Merasa tidak sopan karena memelototi orang lain, Takumi memalingkan wajah kembali memandang hujan di luar sana. Ia melirik jam tangannya dan mendesah sekali lagi. Kenapa Aiko lama sekali? “Maaf.” Takumi menoleh. Laki-laki yang tadi dipelototinya sedang menatapnya dengan ragu. “Matsumoto Takumi?” tanya laki-laki itu masih dengan sikap ragu-ragu. “Ya,” gumam Takumi kaget. Bagaimana orang itu bisa tahu namanya? Kerutan ragu di wajah laki-laki bermantel cokelat itu menghilang. Wajahnya berubah cerah dan ia menghampiri Takumi. “Takumi! Ternyata benar kau. Awalnya aku tidak yakin. Wah, kau sudah berubah.” Melihat Takumi yang masih sibuk mengingat-ingat, ia menambahkan, “Sudah lupa padaku? Ini aku. Akira.” “Akira?” gumam Takumi dengan kening berkerut. Lalu perlahan-lahan dalam benaknya terbayang seorang anak laki-laki kurus kecil berambut cepak yang sangat tertarik dengan pelajaran biologi. Mata Takumi terbelalak senang. “Kitano Akira! Astaga! Lama tidak bertemu. Senang sekali melihatmu lagi, Teman. Apa kabar?”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN