BAB 15

1772 Kata
Aiko melirik kalender di meja kerjanya. Tanggal 24 Desember. Ia mendesah pelan, lalu mengalihkan perhatiannya ke tumpukan buku yang baru dikembalikan hari ini. Ia harus mengembalikan semua buku itu ke rak masing-masing. Tetapi ia merasa tidak bertenaga. Padahal hari ini seharusnya ia merasa bersemangat. Nanti malam ia akan pergi makan malam dengan Kitano Akira, lalu mereka akan pergi menonton pertunjukan balet yang sangat ingin ditontonnya. Ya, seharusnya hari ini ia merasa senang. Semua ini gara-gara Matsumoto Takumi, pikir Aiko geram. Ada di mana Takumi sekarang? Sudah tiga hari terakhir ini Aiko tidak bertemu dengannya. Terakhir kali mereka bertemu adalah malam itu di apartemen Takumi, ketika Aiko bercerita Kitano Akira mengajaknya pergi menonton pertunjukan balet. Setelah itu Aiko tidak melihatnya lagi. Tentu saja Aiko sudah berusaha menghubungi ponsel Takumi, tetapi benda itu ternyata tidak dinyalakan. Awalnya ia merasa jengkel karena Takumi pergi tanpa berkata apa-apa. Kemudian kejengkelannya berubah menjadi kecemasan. Bagaimana kalau terjadi sesuatu pada Takumi? Bagaimana kalau ... Stop! Ia tidak sanggup berpikir jauh sampai pada kemungkinan kalau Takumi bisa terluka atau semacamnya. Sebaiknya ia berpikir Takumi terlalu sibuk untuk meneleponnya. Ya, itu lebih baik. Dengan tekad baru, Aiko bangkit dan berjalan ke arah troli berisi buku-buku yang harus dikembalikan ke rak. Sebaiknya ia melakukan tugasnya sebelum atasannya memutuskan untuk memecatnya karena kedapatan melamun sepanjang hari. Setelah itu, ia akan pulang dan bersiap-siap untuk kencannya malam ini. Ia tidak akan memikirkan tetangganya yang menjengkelkan itu lagi selama sisa hari ini. *** Takumi memperbaiki letak tali ransel yang meluncur dari bahu kanannya tanpa memperlambat langkah. Sesekali ia mengembuskan napas perlahan. Sebenarnya ia berencana melewatkan Hari Natal bersama kakeknya di Kobe, tetapi ternyata kakeknya akan terbang ke New York malam ini. Lalu apa yang harus dilakukannya sekarang? Kelihatannya ia memang harus melewatkan malam Natal sendirian. Menyedihkan sekali. “Takumi.” Mendengar namanya dipanggil, Takumi mendongak dan menoleh ke belakang. Alisnya terangkat begitu melihat siapa yang memanggilnya. “Oh, Akira.” Kitano Akira tersenyum cerah dan berhenti tepat di depan Takumi. “Kebetulan sekali bertemu denganmu di sini. Aku sudah berusaha meneleponmu berkali-kali.” Ya, kebetulan sekali, pikir Takumi dalam hati. Kenapa ia harus kebetulan bertemu dengan Akira di sini? Ia melihat berkeliling dan menyadari tempat ini tidak jauh dari rumah sakit tempat Akira bekerja. “Maaf,” sahutnya. “Ponselku rusak. Ada apa kau mencariku?” “Aku hanya ingin memberitahumu kalau reuni sekolah kita diadakan tanggal sepuluh Januari nanti,” kata Akira. Ia melihat ransel besar Takumi dan bertanya, “Kau mau ke mana?” Takumi melirik ranselnya dan tersenyum. “Ah, tidak. Aku justru baru kembali dari luar kota. Menjenguk kakekku,” jelasnya, lalu memandang pakaian santai temannya dan bertanya, “Kau sendiri tidak bekerja hari ini?” “Shift-ku sudah selesai,” sahut Akira sambil tersenyum lebar. “Sekarang aku akan pulang dan bersiap-siap untuk malam ini.” Ah, benar juga ... Akira akan pergi dengan Aiko malam ini. Pikiran itu membuat kening Takumi berkerut samar. Tiba-tiba ponsel Akira berdering. “Maaf,” katanya kepada Takumi sambil mengeluarkan ponsel dan berjalan menjauh dari Takumi. Takumi masih sibuk dengan pikirannya. Bagaimana kalau ia pergi juga ke pertunjukan balet itu dan menemui mereka di sana? Kalau mereka bertanya kenapa ia ada di sana, ia bisa beralasan bahwa ... Tidak, tidak. Aiko sudah menantikan saat-saat seperti ini dengan Kitano Akira dan Takumi tidak tega merusak kegembiraan gadis itu. Akira menghampirinya kembali, membuyarkan lamunannya. Ia menoleh menatap temannya yang sedang menarik napas panjang. “Ada masalah?” tanya Takumi. “Itu tadi telepon dari rumah sakit,” sahut Akira sambil menggeleng pelan dan mengembuskan napas keras. “Aiko-san tidak akan suka ini.” *** Aiko menutup ponsel dan berkacak pinggang sambil memandangi pakaian yang berserakan di tempat tidurnya. Sepanjang sore ia sudah berusaha memilih pakaian yang akan dikenakannya malam ini, dan tepat ketika ia sudah memilih pakaian yang cocok, Kitano Akira meneleponnya untuk membatalkan janji. Ia kecewa, tentu saja, tapi ia tidak bisa menyalahkan laki-laki itu. Kitano Akira tibatiba dipanggil kembali ke rumah sakit karena salah seorang pasiennya mendadak kritis dan harus segera menjalani operasi. Aiko tidak mungkin menunjukkan kekecewaannya kepada Akira kalau hidup dan mati seseorang sedang dipertaruhkan di sini. Sambil mendesah berat, Aiko mulai membereskan pakaian-pakaiannya. Apakah ini artinya ia akan melewatkan malam Natal ini sendirian? Aduh, menyedihkan sekali. Hikari dan Itsuki sudah pasti akan merayakan Natal bersama teman-teman mereka. Sedangkan Takumi menghilang entah ke mana. Memikirkan tetangganya itu lagi-lagi membuat Aiko khawatir. Di mana Takumi? *** Takumi hampir tidak memercayai telinganya sendiri ketika Akira memberitahunya bahwa ada seorang pasiennya tiba-tiba kritis sehingga ia harus kembali ke rumah sakit dan membatalkan kencannya malam ini. Takumi tiba-tiba tidak bisa menahan semangatnya. Ia meninggalkan Akira ketika temannya itu sedang menelepon Aiko untuk meminta maaf, dan cepat-cepat pulang. Kini ia berdiri di depan pintu apartemen Aiko. Napasnya agak terengah. Ia tidak tahu apakah gadis itu ada di rumah atau tidak. Rasanya aneh kalau sekarang ia tibatiba mengetuk pintu apartemen Aiko. Ia memang sengaja pergi ke Kobe begitu saja tanpa berkata apa-apa pada Aiko. Waktu itu ia sedang kesal, tetapi kemudian ia agak menyesali sikapnya yang kekanak-kanakan. Ketika ia ingin menelepon Aiko, ia mendapati kucing peliharaan kakeknya mendorong-dorong ponselnya sampai masuk ke kolam ikan. Akhirnya setelah berpikir beberapa saat, Takumi mendapat gagasan. Ia mengeluarkan kunci apartemennya sendiri dari saku jaket dengan berisik, lalu berjalan ke pintu apartemen 201. Ia memasukkan kunci ke lubang kunci dan memutarnya dengan suara keras. Ia berhenti sejenak, memasang telinga. Terdengar bunyi samar dari balik pintu apartemen 202, bunyi langkah kaki tergesa-gesa yang semakin jelas. Takumi pun tersenyum. Satu detik kemudian terdengar bunyi pintu dibuka dan ... “Takumi-san?” Sambil memasang wajah polos tak berdosa, Takumi menoleh dan melihat Nakamura Aiko berdiri di ambang pintu apartemennya. “Oh, Aiko-chan. Hai.” Awalnya gadis itu diam saja, hanya menatap Takumi dengan matanya yang bulat. Takumi berputar menatapnya ketika Aiko tidak menjawab. “Oi, Aiko-chan, ada apa denganmu?” Kali ini Aiko mendengus. “Ada apa denganku?” ia balas bertanya dengan nada rendah. “Ada apa denganku?!” Takumi mengangkat alis. O—oh, gadis itu marah. “Kau masih berani bertanya ada apa denganku?” Suara Aiko mulai meninggi. Ia berderap ke arah Takumi yang masih kebingungan dan berdiri tepat di hadapannya sambil berkacak pinggang. “Ke mana saja kau selama ini? Menghilang begitu saja tanpa bilang-bilang. Bahkan ponsel juga tidak bisa dihubungi. Kau tahu pikiranku suka melantur ke mana-mana. Aku mengira kau tergeletak tidak sadarkan diri di selokan entah di mana karena baru dirampok. Atau kau bisa saja mengalami kecelakaan lalu lintas dan sekarang sedang koma. Atau ... atau ... Kenapa senyum-senyum?” Gadis itu mengkhawatirkannya, Takumi yakin akan hal itu. Karenanya ia tidak bisa menahan diri. “Kau tidak kedinginan?” tanyanya polos. Aiko menunduk memandangi sweternya dan berdeham. “Tidak juga,” balasnya sambil menyilangkan tangan di depan d**a. Takumi menggerakkan kepalanya sedikit ke arah apartemennya. “Masuklah,” katanya, “Lalu kau boleh melanjutkan omelanmu. Bagaimana?” Sambil menggerutu tidak jelas, Aiko mengikuti Takumi masuk ke apartemennya dan mengenakan sandal Hello Kitty-nya seperti biasa. “Ke mana saja kau tiga hari ini?” tanya Aiko lagi sementara Takumi melemparkan ranselnya ke sofa clan menyalakan pemanas ruangan. “Kobe,” sahut Takumi sambil berjalan ke kamar tidurnya. Suaranya terdengar samar ketika ia berbicara dari kamar. “Mengunjungi kakekku.” “Kobe?” tanya Aiko ragu. Lalu bertanya lagi,” Kenapa ponselmu dimatikan?” Takumi keluar dari kamar. Jaket tebal dan syalnya sudah dilepas. “Ponselku rusak. Sekarang sedang diperbaiki,” jawabnya singkat. Ia merebahkan dirinya ke sofa dan menyalakan televisi dengan remote control, kemudian ia menoleh ke arah Aiko yang masih berdiri di samping sofa. “Kenapa meneleponku?” “Tidak apa-apa,” sahut Aiko cepat. “Untuk memastikan kau baik-baik saja.” Ia diam sesaat, lalu menambahkan, “Karena kau pergi tanpa bilang-bilang padaku.” Takumi menatap gadis itu dengan alis terangkat. “Aku tidak tahu bahwa aku harus memberitahumu ke mana aku pergi. Sejak kapan kita pacaran?” “Itu ...” Aiko membuka mulut, tapi cepat-cepat menutupnya kembali. Ia tidak bisa menemukan balasan yang tepat. Ia hanya bisa menatap Takumi yang tersenyum lebar dan mendecakkan lidah. “Lalu ...,” Ia berdeham, “Kenapa kau pulang secepat ini? Kenapa tidak merayakan Natal bersama kakekmu?” Takumi mengembuskan napas panjang dan memasang tampang sedih. “Aku juga ingin menghabiskan Natal di sana. Di sini sepi sekali, tidak ada yang menemaniku. Kau juga akan pergi kencan dengan dokter itu. Tapi ternyata kakekku akan berangkat ke New York malam ini.” Ia melirik Aiko sekilas. “Ngomong-ngomong, kenapa kau belum bersiap-siap?” tanyanya, pura-pura tidak tahu-menahu soal kencan Aiko yang dibatalkan. “Kencannya batal,” gumam Aiko dan menjatuhkan pantatnya di sofa di samping Takumi. Lengannya masih disilang di depan d**a. Ia terlihat sebal. “Ada pasien yang sedang gawat, jadi dia harus tetap di rumah sakit.” Takumi hanya bisa bergumam, “Oh ...” dan mengangguk-angguk. Aiko menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya dengan keras. “Ini akan menjadi Natal paling menyedihkan dalam hidupku,” keluhnya lesu. “Semua orang pergi dengan pacar mereka, bersenang-senang menyambut Natal. Lalu aku?” Ia mengerang kesal. Takumi mengusap rahangnya, lalu berkata, “Kau mau pergi kencan denganku malam ini?” Kepala Aiko berputar cepat ke arah Takumi. “Apa?” “Kau mau pergi kencan denganku malam ini?” ulang Takumi. “Bukankah kita sama-sama tidak punya acara?” “Kencan?” Takumi mengangkat bahu. “Ya. Kau tahu, pergi makan malam dan semacamnya. Itu dinamakan kencan, bukan?” Aiko tersenyum lebar. Setidaknya ia tidak perlu melewatkan malam Natal menonton televisi sendirian di apartemennya. “Oke! Oke! Kita akan ke mana?” serunya penuh semangat. “Ah, itu akan menjadi kejutan,” kata Takumi sambil menyunggingkan senyum lebar yang memikat itu. “Sekarang kau hanya perlu bersiap-siap. Satu jam lagi aku akan menjemputmu.” Aiko tertawa. “Menjemput,” katanya. “Kau membuatnya terdengar begitu romantis, padahal aku hanya tinggal di seberang apartemenmu. Kau hanya perlu berjalan lima langkah dari pintumu ke pintuku.” Ia berdiri dari sofa. “Tapi aku suka laki-laki yang sopan dan penuh perhatian seperti itu.” “Aiko-chan.” Aiko mendengar Takumi memanggilnya ketika ia mencapai pintu depan apartemen laki-laki itu. Aiko berputar. “Hm?” Takumi berdiri dengan kedua tangan dimasukkan ke saku celana jinsnya. “Berhati-hatilah,” katanya dengan nada serius, namun matanya tersenyum. “Hati-hati? Terhadap apa?” tanya Aiko was-was. Senyum lebar tersungging di bibir Takumi. “Setelah kencan ini, kau mungkin akan jatuh cinta padaku.” Aiko mengangkat alis. Jelas mengira Takumi hanya bercanda, akhirnya ia mendengus pelan dan berkata, “Tenang saja. Tidak akan terjadi.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN