“Reuni SMP?” Takumi memindahkan ponsel ke telinga kanan dan mendongak menatap lampu lalu lintas, menunggunya berubah warna.
“Maksudmu, reuni satu sekolah? Bukan hanya kelas kita atau angkatan kita?”
“Bukan hanya angkatan kita,” sahut Kitano Akira di ujung sana. “Semua alumni boleh datang. Malah undangan untuk para alumni sudah disebarkan satu bulan sebelumnya. Kau tidak menerimanya?”
“Tidak.”
“Yah, mungkin karena kau sudah pindah ke luar negeri sebelum tahun ajaran selesai,” tebak Akira. “Karena itu mereka tidak tahu bagaimana cara menghubungimu.”
Lampu lalu lintas berubah warna dan Takumi cepat-cepat menyeberang jalan bersama rombongan pejalan kaki lainnya. “Tapi memangnya aku boleh ikut? Maksudku, aku kan tidak menerima undangannya.”
“Ah, kau tidak perlu cemas soal itu,” kata Akira ringan. “Biar aku saja yang mengurusnya. Kau hanya perlu hadir.”
“Kapan reuninya?
“Kira-kira seminggu setelah Tahun Baru. Aku lupa tanggal pastinya. Nanti akan kukabari lagi.”
“Baiklah. Tapi ngomong-ngomong apakah kita harus hadir sendiri atau ...”
“Ah, maksudmu apakah kau boleh mengajak pasangan? Tentu saja. Kau tahu, banyak teman kita yang akan mengajak suami atau istri mereka.” Akira terdiam sejenak, lalu bertanya dengan nada bergurau,
“Kenapa? Ada seseorang yang ingin kau ajak ke acara itu?”
Takumi tersenyum. “Mungkin.”
Akira mendesah. “Tidak mau bercerita rupanya. Tidak apa-apa. Tapi kuharap kau bisa mengajaknya dan mengenalkannya padaku.”
“Baiklah,” sahut Takumi, tertawa.
“Mungkin aku juga akan mengajak seseorang,” kata Akira tiba-tiba.
“Tunggu dulu. Beberapa hari yang lalu sewaktu kita makan siang bersama, kau bilang kau belum punya pacar. Tepatnya, kau bilang kau tidak punya waktu untuk pacaran.”
Takumi berjalan menyusuri Takeshita Dori, salah satu jalan di Harajuku yang sempit, panjang, dan dipadati pejalan kaki yang kebanyakan adalah remaja. Berbagai butik, kafe, restoran siap saji, dan toko-toko kecil lainnya yang ditargetkan untuk kawula muda berjejer di sepanjang jalan. Takumi menyenggol bahu seseorang dan ia menggumamkan kata maaf tanpa berhenti berjalan.
“Memang. Tapi bukankah hidup memang aneh?” Suara Akira terdengar ceria. “Aku bertemu dengannya tepat setelah aku makan siang denganmu hari itu. Sejak itu kami sempat bertemu beberapa kali untuk urusan pekerjaan dan aku sempat mengajaknya makan siang atau minum kopi sesekali. Aku tidak tahu apakah dia mau kalau aku benar-benar mengajaknya kencan.”
“Salah seorang perawat baru yang cantik?” tebak Takumi.
“Aku memang bertemu dengannya di rumah sakit, tapi dia bukan perawat,” kata Akira, masih dengan nada ceria. “Tenang saja, kau akan bertemu dengannya nanti saat reuni.”
Takumi menutup ponsel dan masuk ke salah satu toko foto di sebelah kanannya dan tersenyum kepada penjaga toko yang menyambutnya.
“Pesanan atas nama Matsumoto sudah jadi?” tanyanya.
Gadis penjaga toko berwajah manis itu tersenyum lebar. “Ah, tentu saja. Harap tunggu sebentar.”
Tak lama kemudian gadis ramah itu kembali membawa sebuah kantong kertas dan menyerahkannya kepada Takumi. Takumi mengeluarkan beberapa lembar foto yang cukup besar dari dalam kantong kertas itu dan memeriksa setiap lembarnya. Semua foto itu adalah hasil jepretannya sejak ia menginjakkan kaki di Tokyo. Pemandangan kota Tokyo, para pejalan kaki di jalanan Shibuya, anak-anak kecil yang berlarian di Yoyogi Gyoen, beberapa kuil terkenal. Dan Nakamura Aiko.
Takumi memegang salah satu foto Aiko yang diambilnya ketika ia melihat gadis itu duduk sendirian di salah satu kafe di Omotesando. Ia sudah sering memotret Aiko dan kebanyakan dari foto itu diambil tanpa sepengetahuan gadis itu. Kalau Aiko tahu Takumi memotretnya, ia akan mengomel panjang-lebar tentang dirinya yang bukan foto model dan tidak berniat menjadi foto model.
“Semuanya sudah lengkap, bukan?” tanya si penjaga toko.
Takumi mengangkat wajah dan tersenyum lebar. “Ya,” sahutnya. “Terima kasih banyak.”
Memandangi foto-foto Aiko yang ada dalam genggamannya, Takumi teringat sesuatu. Sebelum ia mengajak gadis itu ke acara reuni sekolahnya, ada hal lain yang ingin dikatakannya kepada Aiko. Ia merogoh saku bagian dalam jaketnya dan mengeluarkan dua lembar tiket pertunjukan balet. Swan Lake, salah satu pertunjukan yang sangat laris dan sangat ingin ditonton Aiko. Tanggal pertunjukan yang tercetak pada tiket itu adalah 24 Desember, jadi Takumi berharap Aiko tidak punya acara penting pada hari itu.
***
Aiko berjongkok merapikan buku-buku yang ada di rak bagian bawah sambil bersenandung lirih. Perpustakaan sedang sepi saat itu. Hanya ada beberapa orang yang membaca buku di meja-meja yang tersedia. Aiko sangat suka suasana sepi perpustakaan. Begitu damai. Ia berdiri, menegakkan tubuh, dan memandang ke luar jendela. Natal tinggal beberapa lagi. Ia berharap salju akan turun pada Hari Natal.
Aiko mendesah pelan dan melirik jam tangan. Sebentar lagi waktunya pulang. Tiba-tiba lagu Fly High terdengar nyaring. Terperanjat. Aiko buru-buru mengeluarkan ponselnya.
“Moshi-moshi?” bisiknya.
Wajahnya terasa panas ketika ia melihat beberapa orang menoleh ke arahnya. Ia cepat-cepat meninggalkan deretan rak buku dan kembali ke meja kerjanya.
“Aiko-san.”
Mendengar suara Kitano Akira di ujung sana, Aiko langsung memperlambat langkah karena kaget.
“Sensei?”
“Bagaimana kakimu?” tanya Kitano Akira. “Tidak ada masalah, bukan?”
Otomatis Aiko menatap kaki kirinya yang tidak lagi diperban. Perbannya memang sudah dibuka kemarin.
“Tidak masalah. Sudah sembuh sama sekali,” sahutnya sambil tersenyum. “Sensei masih di rumah sakit?”
“Ya, tapi sebentar lagi pulang. Kau ada acara malam ini?”
“Mmm ... Tidak ada acara penting. Ada apa?”
“Bagaimana kalau kita pergi makan malam?”
Aiko tidak butuh waktu lama untuk menjawab. “Tentu saja.”
***
Sibuk.
Takumi menutup ponselnya. Sudah tiga kali ia mencoba menghubungi Aiko tetapi ponsel gadis itu sibuk terus. Tidak apa-apa. Ia akan pergi menemui gadis itu di perpustakaan tempatnya bekerja. Takumi melirik jam tangan. Masih ada waktu. Kemungkinan besar ia bisa sampai di sana sebelum gadis itu pulang. Lalu ia bisa sekalian mengajak Aiko makan malam.
Tapi ternyata Aiko tidak ada di perpustakaan. Menurut salah seorang rekan kerjanya Aiko pulang lebih cepat hari ini. Takumi melirik jam tangan. Kalau begitu ia akan menemui Aiko di rumah saja.
***
Seharusnya ia memakai sarung tangan. Takumi menggigil dan menjejalkan kedua tangannya ke dalam saku mantel begitu keluar dari stasiun kereta bawah tanah. Uap putih keluar dari hidung dan mulutnya seiring dengan setiap embusan napas. Dingin sekali. Sepertinya tidak lama lagi akan turun salju.
“Oniisan!”
Takumi menoleh ke arah suara dan melihat Okada Itsuki berlari menghampirinya. “Oh, Itsuki.”
“Dingin ... Dingin ...” Itsuki menggigil dengan berlebihan dan menggosok-gosok kedua telapak tangannya. “Oniisan mau pulang? Ayo, kita jalan sama-sama.”
Kedua laki-laki itu berjalan cepat menyusuri jalan menanjak yang mengarah ke gedung apartemen mereka.
“Jadi bagaimana?” tanya Itsuki tiba-tiba.
“Bagaimana apa?” Takumi balik bertanya.
“Tentang malam Natal.”
“Hm?”
“Oniisan sudah mengajaknya?”
“Siapa?”
Itsuki berhenti melangkah. “Bukankah waktu itu Oniisan bilang Oniisan mau menghabiskan Natal bersama seseorang? Tapi waktu itu Oniisan belum mengajaknya. Jadi apakah Oniisan sudah mengajaknya sekarang?”
Takumi juga menghentikan langkah. Ia menatap Itsuki sejenak, lalu tersenyum. “Oh, itu.” Kemudian ia kembali melanjutkan langkah.
Itsuki menyusulnya. “Ya, yang itu. Jadi?”
“Aku akan mengajaknya malam ini.”
“Oniisan masih belum mengajaknya?
“Sudah kubilang, aku akan bertanya padanya malam ini.”
“Oniisan sudah lupa kata-kataku tentang bergerak cepat?”
“Astaga, anak ini! Bukankah sudah kubilang ...”
“Eh, itu mobil siapa?
Takumi menahan omelannya dan memandang lurus ke depan. Sebuah mobil hitam berhenti di depan gedung apartemen mereka, tidak begitu jauh dari mereka. Pintu di sisi pengemudi terbuka dan seorang laki-laki yang mengenakan jaket cokelat panjang keluar.
Alis Takumi terangkat. Oh? Bukankah itu Kitano Akira, pikirnya sambil menyipitkan mata untuk melihat lebih jelas. Ada apa temannya itu datang mencarinya? Takumi baru akan mempercepat langkah ketika pintu sisi penumpang terbuka dan seorang gadis melangkah keluar. Takumi berhenti melangkah dan mengerjapkan mata ketika mengenali gadis itu. Nakamura Aiko?
“Oh? Bukankah itu Aiko Oneesan?” Takumi mendengar Itsuki bertanya. “Lalu siapa orang yang bersamanya itu?”
Takumi tidak menjawab. Ia sendiri juga heran. Aiko dan Akira?
“Jangan-jangan dia si dokter itu,” sela Itsuki tiba-tiba.
Takumi menoleh ke arah Itsuki di sampingnya. “Siapa?”
“Cinta pertama Aiko Oneesan. Yang meneleponnya ketika kita semua sedang makan shabushabu di rumah Kakek Osawa.”
Kepala Takumi berputar kembali menatap Aiko dan Akira yang berdiri berhadapan. Mereka sedang asyik membicarakan sesuatu, lalu tertawa.
Benar juga. Aiko pernah memberitahunya nama cinta pertamanya adalah Akira dan berprofesi sebagai dokter. Mungkinkah Akira yang menjadi cinta pertama Aiko adalah orang yang sama dengan Akira yang adalah teman lama Takumi? Ditambah lagi, tadi Akira menyebut-nyebut tentang wanita yang baru dikenalnya. Apakah wanita yang dimaksudnya itu Aiko?
Itsuki kembali bersuara. “Kelihatannya hubungan mereka sudah dekat. Oniisan, menurutmu apakah mereka pa ...”
“Itsuki,” sela Takumi tiba-tiba.
“Ya?”
“Ayo, kutraktir minum.”
Takumi sama sekali tidak mengerti apa yang sedang terjadi. Ia butuh waktu untuk mencerna apa yang dilihatnya tadi. Ia berharap sedikit sake bisa membantu menjernihkan pikirannya.