BAB 2

1349 Kata
Matsumoto Takumi terbangun dengan kepala pusing dan badan kaku. Hal pertama yang disadarinya adalah keadaan kamarnya yang gelap gulita. Ia melirik ke luar jendela. Langit di luar gelap. Sudah malamkah? Jam berapa ini? Ia mengerang, lalu memejamkan mata sejenak. Ia masih lelah sekali. Badannya menolak untuk bergerak. Pelipisnya berdenyut-denyut. Penerbangan dari New York ke Tokyo menguras tenaganya dan membuatnya jet-lag. Ia memang tidak pernah suka melakukan penerbangan jauh. Tenggorokannya kering. Ia harus minum sebelum tubuhnya dehidrasi. Kapan terakhir kali ia minum? Ia tidak ingat. Mungkin sewaktu di pesawat. Takumi memaksa dirinya bangun dan duduk di tepi ranjang. Ia mengusap wajah dengan kedua tangan untuk sedikit menyadarkan diri. Lalu perlahan ia bangkit dan menyeret kakinya yang berkaus kaki tebal keluar dari kamar. Sinar bulan dan lampu jalan yang masuk lewat pintu kaca balkon menerangi ruang duduk. Penerangan remang-remang itu sudah cukup bagi Takumi. Ia tidak mau menyalakan lampu karena matanya bahkan belum terbiasa dengan penerangan samar yang ada, apalagi sinar lampu yang terang benderang. Ia haus dan ia baru menyadari bahwa perutnya juga lapar. Kapan terakhir kali ia makan? Sewaktu di pesawat? Ia ingat ia hanya makan sedikit di pesawat karena sama sekali tidak berselera. Pantas saja sekarang ia kelaparan. Takumi baru akan berjalan ke dapur ketika mendengar bunyi gemeresik samar di luar pintu apartemennya. Ia menoleh dan melihat bayangan gelap terpantul dari bawal celah pintu. Matanya menyipit. Ada orang di luar pintunya. Bayangan di bawah celah pintu itu bergerak-gerak. Niat awalnya mencari minuman batal. Ia berbalik, menghampiri pintu, dan memasang telinga. Tidak terdengar suara orang berbicara, tapi sudah jelas ada orang yang berdiri di luar sana. Tangannya terangkat ke pegangan pintu, lalu dengan satu sentakan cepat, ia menarik pintu itu membuka. Pintu itu membentur sesuatu, yang disusul pekikan seorang wanita. Takumi membuka pintunya lebar-lebar dan mengerjapkan mata, silau karena dihadapkan pada terangnya lampu di koridor. Kemudian ia melihat seorang gadis berambut hitam panjang tersungkur di lantai di hadapannya sambil merintih pelan. Sepertinya sentakannya membuka pintu membuat gadis itu terjatuh. Dan sudah pasti gadis itulah yang memekik tadi. Kini gadis itu mengucapkan serentetan kata yang tidak dipahaminya. Tiba-tiba gadis itu mendongak dan menatap Takumi. Mata gadis itu terbelalak kaget. Sesaat Takumi merasa gadis itu bukan orang Jepang. Mata gadis itu besar dan bulat, tidak seperti mata orang Jepang pada umumnya, apalagi tadi gadis itu mengatakan sesuatu dalam bahasa yang sudah jelas bukan bahasa Jepang. Takumi bingung. Otaknya masih bekerja lebih lambat daripada biasa. “Kau tidak apa-apa?” Takumi mendapati dirinya bersuara. Suaranya terdengar serak di telinganya sendiri. Dan ia mengatakannya dalam bahasa Jepang. Apakah gadis itu mengerti? Ia tidak sempat mendengar jawaban gadis itu, karena mendadak keadaan sekelilingnya menjadi riuh. Bunyi pintu-pintu membuka, lalu berbagai seruan yang terdengar tumpang-tindih. “Ada apa? Apa yang terjadi?” “Suara apa itu?” “Siapa yang berteriak?” “Ada pencuri? Pencuri?” “Aiko-chan? Kaukah itu?” “Aiko Oneesan?” “Itsuki! Ayo, kita naik.” “Mana tongkat bisbolku?” “Pakai dulu jaketmu.” “Jaketku?” “Bu, kau tunggu di sini saja.” “Hati-hati!” Dalam sekejap mata, tiga orang bermunculan di depan Takumi. Ia hanya bisa mengerjap-ngerjapkan mata memandang dua pria dan satu wanita yang menyerbu koridor sempit di lantai dua itu. Mereka balas menatapnya dengan heran. Kini, selain gadis bermata besar yang masih terduduk di lantai, ada seorang pemuda bertubuh kurus berambut agak gondrong yang megacungkan tongkat bisbol, seorang wanita berambut pirang pendek, lalu seorang pria tua dengan rambut yang sudah memutih. “Aiko, apa yang terjadi?” pekik si wanita berambut pirang sambil menghampiri gadis yang terduduk di lantai. “Kau baik-baik saja?” Gadis yang dipanggil Aiko itu melongo sesaat, lalu cepat-cepat menjawab, “Oh, Hikari Oneesan. Tidak apa-apa. Aku baik-baik saja.” Oke, gadis bernama Aiko itu bisa berbahasa Jepang, pikir Takumi tanpa sadar. Sepertinya dia memang orang Jepang. Si pemuda kurus dan berambut gondrong membantu Aiko berdiri dengan sebelah tangan, sementara tangannya yang lain masih mencengkeram tongkat bisbol dengan erat. Ia menatap Takumi yang masih tertegun. “Anda siapa? Aiko Oneesan, apakah orang ini macam-macam terhadapmu?” Takumi terkejut. ‘Nah, tunggu sebentar! Macam-macam? Tunggu dulu ...’ “Sabar, Itsuki,” sela orang tua berambut putih yang berdiri di samping si pemuda yang mengacungkan tongkat bisbol. Kakek tua itu menatap Takumi dengan mata disipitkan, lalu berkata pendek, “Tolong perkenalkan dirimu, Anak muda.” Takumi menelan ludah. Tenggorokannya sakit dan ia ingat tadi ia belum sempat minum. Ia berdeham sejenak, lalu berkata datar, “Nama saya Matsumoto Takumi. Saya baru pindah ke apartemen ini.” “Oh? Si orang baru?” tanya pemuda yang tadi dipanggil Itsuki. “Tadi pagi aku melihatmu datang.” Takumi melihat tongkat bisbol yang tadinya terangkat tinggi itu kini diturunkan. Ia berkata, “Saya baru tiba di Tokyo dengan pesawat pagi tadi. Karena tidak enak badan saya langsung tertidur begitu tiba di apartemen. Saya minta maaf karena tidak sempat memperkenalkan diri lebih awal.” “Sudah kubilang orang baru itu tidak keluar-keluar sejak masuk tadi pagi,” kata wanita berambut pirang yang berdiri di samping Aiko. Wanita itu bertanya lagi dengan nada curiga, “Lalu sejak tadi pagi kau tidur terus di dalam?” “Benar,” sahut Takumi. “Lalu apa yang terjadi di sini?” Si kakek tua kernbali bertanya sambil memandang Takumi dan Aiko bergantian. Perhatian Takumi kembali terarah kepada Aiko yang terlihat serba salah. Gadis itu bersedekap dan mengangkat bahu dengan salah tingkah. “Kakek, itu ... Itu, ehm ... Maksudku, aku hanya khawatir,” katanya terbata-bata. Ia melihat ke sekeliling dan menyadari orang-orang di sana masih menunggu penjelasannya, karena itu ia melanjutkan, “Aku dengar dari Hikari Oneesan,” ia menatap wanita berambut pirang itu sekilas, “Sudah ada yang menempati apartemen 201 dan orang itu belum keluar dari kamar sejak pagi. Dan aku tidak mendengar suara apa pun dari dalam. Jadi kupikir ...,” suaranya semakin lirih dan ia tersenyum kikuk, “... mungkin orang itu sakit, atau, eh, jatuh pingsan.” Takumi berusaha menahan senyum mendengar penjelasan gadis itu. “Lalu ketika aku sedang mencoba mendengarkan suara dari balik pintu, orang—eh, Nishimura-san tiba-tiba membuka pintu dan membuatku terkejut. Dan aku terjatuh.” Aiko berdeham di akhir penjelasannya. “Begitulah.” Seketika itu juga suasana tegang di koridor lantai dua mencair. “Ya ampun, Aiko. Kau membuat kami kaget sekali tadi,” kata wanita berambut pirang yang bernama Hikari sambil mengguncang lengan Aiko. “Maafkan aku,” gumam Aiko lirih sambil membungkuk beberapa kali, lalu melirik Takumi sekilas dan membungkuk badan lagi. “Sebaiknya kita saling memperkenalkan diri,” kata Itsuki sambil memandang Takumi. “Namaku Okada Itsuki dan ini kakakku, Okada Hikari.” Ia menunjuk wanita berambut pirang yang kini tersenyum manis kepada Takumi. “Kami tinggal di bawah, di apartemen 102,” Hikari menambahkan. Takumi membungkuk dan menyambut uluran tangan kakak-beradik Sato. “Mohon bantuannya.” “Anak-anak ini biasanya memanggilku Kakek Osawa,” si kakek tua memperkenalkan diri sambil tersenyum lebar. Walaupun kulitnya sudah keriput, Kakek Osawa ternyata masih memiliki deretan gigi yang rapi. “Aku tinggal bersama istriku di bawah.” Setelah itu pandangan semua orang terarah kepada Aiko yang tetap diam. Aiko tersadar dan buru-buru membungkuk dalam-dalam, lalu berkata dengan agak tergagap, “Namaku Nakamura Aiko. Salam kenal. Aku minta maaf soal ... soal kejadian tadi.” Takumi tersenyum. “Tidak usah dipikirkan. Aku juga minta maaf karena membuatmu terkejut.” “Selamat bergabung bersama kami, Nishimura-san,” kata Kakek sambil menepuk bahu Takumi. “Jika ada yang bisa kami bantu, jangan ragu-ragu mengatakannya.” Inilah pertama kali Takumi menginjakkan kaki kembali di Tokyo setelah pindah ke New York bersama keluarganya bertahun-tahun yang lalu. Kali ini ia kembali bukan karena rindu pada kampung halaman. Ia hanya ingin pergi jauh dari New York untuk sementara waktu. Dan Tokyo adalah kota pertama yang terlintas dalam benaknya. Kini Takumi memandang orang-orang yang berdiri mengelilinginya dan yang balas memandangnya dengan tatapan penuh minat dan senyum ramah. Tiba-tiba saja ia sadar ia takkan bisa mendapat ketenangan yang diinginkannya. Tetapi entah kenapa ia merasa hidupnya takkan pernah sama lagi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN