bc

Pelukan Terakhir di Tokyo

book_age16+
102
IKUTI
1K
BACA
family
HE
kickass heroine
sweet
bxg
city
like
intro-logo
Uraian

Tokyo di musim dingin selalu dingin dan sunyi. Bagi Aiko, gadis blasteran yang lebih akrab dengan buku daripada manusia, kesepian sudah jadi bagian hidupnya. Hingga suatu hari, tetangga barunya—Takumi, fotografer hangat dan penuh senyum—datang membawa kehangatan yang tak pernah ia bayangkan.

Namun, bayangan cinta pertama masih menghantui, dan sebuah kecelakaan membuat Takumi kehilangan ingatan. Di tengah salju yang terus turun, Aiko harus memilih: tetap terjebak dalam masa lalu, atau berani membuka hati untuk masa depan yang mungkin lebih indah.

chap-preview
Pratinjau gratis
BAB 1
Musim dingin sudah tiba dan menyelimuti kota Tokyo. Angin bertiup agak kencang malam ini. Nakamura Aiko mengibaskan rambut panjangnya ke belakang agar tidak menghalangi pandangan sementara ia bergegas menyusuri jalan kecil dan sepi yang mengarah ke gedung apartemennya. Ia menggigil karena rasa dingin mulai menembus jaket dan sweter tebalnya. Ia ingin cepat-cepat sampai di rumah, minum secangkir cokelat panas, dan makan ramen*. Memikirkannya saja sudah membuat perut keroncongan. Dingin-dingin begini memang paling enak ... “Hei!” Aiko terlompat kaget dan berputar cepat. Matanya terbelalak menatap wanita dengan rambut pendek dicat pirang manyala yang sudah berdiri di sampingnya. Begitu mengenali wanita itu sebagai Okada Hikari, tetangganya yang tinggal di apartemen lantai bawah, Aiko menghembuskan napas lega. “Hikari Oneesan*,” Aiko mendesah sambil memegang d**a. “Oneesan membuatku terkejut setengah mati.” Okada Hikari mendecakkan lidah dan tersenyum lebar. “Kau terlalu gampang terkejut.” “Oneesan tahu aku selalu merasa was-was kalau berjalan sendirian di jalan sepi,” kata Aiko. “Dan aku punya alasan bagus untuk itu.” “Baiklah, baiklah. Aku minta maaf. Ayo, cepat. Aku sudah hampir beku,” kata Hikari sambil menggandeng lengan Aiko. “Kelihatannya barang bawaanmu banyak sekali. Kau bawa buku lagi hari ini?” Aiko mengeluarkan dua buku dari tas tangannya yang super besar. Dua-duanya buku klasik terkenal. “Dua buku ini baru masuk hari ini, jadi aku orang pertama yang membacanya.” Ia bekerja di sebuah perpustakaan umum di Shinjuku dan ia sangat menyukai pekerjaannya. Sejak kecil ia memang sangat gemar membaca buku dan impiannya adalah bekerja di perpustakaan, tempat ia bisa membaca buku sepuas hatinya, tanpa gangguan, dan tanpa perlu mengeluarkan uang. “Oneesan mau membacanya?” tanyanya pada Hikari yang menatap kedua buku itu dengan kening berkerut. “Akan kupinjamkan kalau aku sudah selesai.” Alis Hikari terangkat tinggi dan ia melotot ke arah Aiko. “Buku bahasa Inggris? Yang benar saja,” katanya. “Kau tahu benar bahasa Inggris-ku sekadar yes, no, thank you, I love you. Terlebih lagi, aku tidakmsuka membaca buku. Otakku yang sederhana ini hanya bisa memahami manga*.” Aiko tertawa, lalu mengalihkan pembicaraan. “Hari ini Oneesan pulang terlambat,” katanya. Hikari mengangguk. “Ya, tadi ada janji dengan teman,” sahutnya ringan. “Oh, Itsuki pasti hampir mati kelaparan sekarang. Dia sudah meneleponku sejak tadi dan bertanya kapan aku pulang. Entah kapan anak itu bisa dewasa dan berhenti merecoki kakaknya ini. Aku sudahmtidak sabar menunggunya lulus kuliah dan menjadi pengacara. Saat itu aku yang akan merecokinya.” Beberapa menit kemudian mereka tiba di depan gedung apartemen mereka. Sebenarnya bangunan yang disebut-sebut sebagai gedung apartemen itu tidak benar-benar mirip gedung apartemen dalam bayangan kebanyakan orang. Gedung itu hanya bangunan tua tingkat dua berukuran kecil. Setiap lantainya memiliki dua apart emen yang berhadapan. Tidak ada lift, hanya ada tangga yang tidak terlalu lebar. Di lantai dasar, apartemen 101 ditempati oleh sepasang suami-istri tua bernama Osawa, yang sekaligus merupakan penanggung jawab gedung. Apartemen di seberang mereka, nomor 102 ditempati oleh kakak—beradik Sato. Okada Hikari berumur 28 tahun—tiga tahun lebih tua daripada Aiko—dan bekerja sebagai penata rambut di Harajuku, sedangkan adik laki-lakinya, Okada Itsuki, adalah mahasiswa jurusan hukum. Aiko sendiri menempati apartemen 202 di lantai dua. Apartemen 201 saat ini kosong. Saat Aiko pertama kali pindah ke gedung apartemen ini lima tahun yang lalu, penghuni apartemen 201 adalah seorang arsitek muda yang sudah cukup lama tinggal di sana, kemudian tahun lalu sepasang suami-istri muda menggantikan si arsitek. Pasangan suami-istri itu menempati apartemen di seberang apartemen Aiko selama setahun dan bulan lalu mereka memutuskan untuk membeli rumah kecil kemudian pindah. Walaupun gedung itu sudah tua, kondisi apartemen di sana sama sekali tidak buruk. Ruangannya cukup luas kalau dibandingkan dengan apartemen lain pada umumnya, fasilitasnya memadai, dan biaya sewanya termasuk murah. Tidak mungkin menemukan apartemen seperti itu di pusat kota Tokyo. Setiap apartemen di sana memiliki susunan yang sama: dapur, ruang duduk yang mengarah ke balkon sempit yang berfungsi sebagai tempat menjemur pakaian, satu bilik kecil khusus untuk kloset, satu kamar mandi kecil yang dilengkapi dengan mesin pemanas air, dan dua kamar tidur yang juga berukuran kecil. Apartemen 101 dan 201 memiliki balkon menghadap ke utara, sedangkan balkon apartemen 102 dan 202 menghadap ke selatan. Selain itu semua penghuni apartemen di sana adalah orang-orang yang menyenangkan dan Aiko sudah menganggap mereka seperti keluarga sendiri. Ketika mereka tiba di depan pintu apartemen 102, Hikari berbalik menghadap Aiko. “Oh ya, apakah aku sudah tahu penyewa baru apartemen 201 sudah datang?” Mata Aiko melebar. “Benarkah?” Hikari mengangguk. “Aku sendiri belum pernah melihat orang baru itu, tapi Itsuki melihatnya tadi pagi.” “Laki-laki?” tanya Aiko. Hikari mengangguk lagi. “Kata Itsuki, orang itu datang sendirian dan langsung masuk ke apartemen 201. Tidak keluar lagi sejak saat itu. Aneh, bukan?” Kening Aiko berkerut samar. “Bukankah Itsuki-kun pergi kuliah pagi tadi? Bagaimana dia bisa tahu orang itu keluar lagi atau tidak?” Hikari menggeleng dan mengibas-ngibaskan tangan. “Itsuki memang pergi kuliah, tapi Nenek masih ada di rumah saat itu,” katanya, merujuk pada Nenek Osawa yang tinggal di seberang apartemennya. “Nenek juga tahu ada orang yang masuk ke apartemen 201 tadi pagi dan sepanjang hari Nenek sudah memasang mata dan telinga. Orang itu tidak keluar-keluar sampai sekarang.” “Begitu?” gumam Aiko sambil merenung. “Mungkin Kakek Osawa tahu siapa yang menyewa apartemen itu.” “Kurasa tidak,” sahut Hikari. “Kata Nenek, orang yang sejak awal datang untuk melihat keadaan apartemen dan mengurus semua tentang masalah sewa-menyewa bukan laki-laki ini. Mungkin dia memakai jasa agen atau semacam itu.” “Oh ...” Hikari mengeluarkan kunci pintu dari tas tangannya dan tersenyum. “Baiklah, aku harus masuk dan memberi makan adikku yang manja itu. Selamat malam, Aiko.” “Selamat malam.” Aiko melambaikan tangan dan bergegas menaiki tangga sambil menggosok-gosok kedua tangannya yang terasa dingin walaupun sudah terbungkus sarung tangan. Ketika mencapai pintu apartemennya, ia berhenti lalu menoleh dan menatap pintu apartemen 201. Keningnya berkerut. Ia sama sekali tidak mendengar suara apa pun dari balik pintu. Benarkah sudah ada yang menyewa apartemen itu? Kenapa tidak ada suara? Sama sekali tidak ada tanda-tanda bahwa ada orang di dalam. Tiba-tiba pikiran buruk melintas dalam benak Aiko. Bagaimana kalau penyewa baru itu jatuh sakit? Aiko cepat-cepat menggeleng untuk mengenyahkan gagasan itu. Jangan berpikir yang aneh-aneh. Mungkin saja orang itu sedang tidak ada di rumah. Bisa saja orang itu keluar rumah ketika Nenek Osawa sedang tidak memerhatikan. Tapi tetap saja ada kemungkinan penyewa baru itu benar-benar belum keluar sejak pagi. Bagaimana kalau orang itu sakit dan terlalu lemah untuk bangun dari tempat tidur? Bagaimana kalau orang itu tidak punya siapa-siapa untuk dimintai tolong? Bagaimana kalau orang itu menderita penyakit jantung dan sekarang sedang kesakitan? Bagaimana kalau ia jatuh pingsan di dalam sana? Bagaimana kalau ia sedang sekarat?! Aiko menggigil memikirkan kemungkinan itu. Kemudian ia menepuk pelan kepalanya yang tertutup topi rajutan putih. Ah, tidak mungkin. Jangan berpikiran buruk. Sejak kecil daya imajinasinya memang hebat karena terlalu banyak membaca buku. Mungkin seharusnya ia menjadi penulis buku fantasi. Tapi ... Aiko maju selangkah mendekati pintu apartemen 201 dengan ragu-ragu. Ia menyapu poninya yang terpotong rapi dari kening dan menarik napas panjang. Kemudian setelah membulatkan tekad, ia menempelkan telinga kanannya ke pintu dengan hati-hati. Tidak terdengar apa-apa. Ia memutar kepalanya dan kali ini telinga kirinya yang ditempelkan ke pintu. Masih tetap sunyi senyap di dalam sana. Apakah ia harus memanggil Kakek Osawa? Rasanya tidak enak mengganggu Kakek malam-malam begini. Tapi ... Aiko masih sibuk menimbang-nimbang apa yang harus dilakukan ketika pintu itu mendadak berayun terbuka dengan satu gerakan cepat, membuat kepalanya yang masih menempel di daun pintu kehilangan sandaran dan tubuhnya jatuh ke depan. Ia sempat memekik kaget sebelum jatuh terduduk di lantai batu yang dingin. “Aduh, aduh, aduh ... Kepalaku, aduh, pantatku ...” Aiko mengerang sambil mengusap sisi kepalanya, sama sekali tidak sadar bahwa ia mengerang dalam bahasa ibunya. Dua-tiga detik kemudian, Aiko tersadar kembali dan langsung mendongak. Matanya terbelalak kaget, terpaku pada sosok jangkung yang berdiri di ambang pintu apartemen 201 yang terbuka. Awalnya Aiko tidak bisa melihat dengan jelas sosok yang berdiri di sana karena bagian dalam apartemen itu gelap gulita. Namun kemudian ia bisa melihat lebih jelas ketika sosok itu maju selangkah dan sinar lampu di koridor meneranginya. Laki-Iaki bertubuh tinggi yang berdiri di sana terlihat berantakan. Rambutnya yang gelap awut-awutan, sweter hitam dan celana jins yang dikenakannya juga kelihatan lusuh. Aiko tidak bisa menebak umur laki-laki itu karena penampilannya sungguh kacau dan sepertinya ia belum bercukur hari ini. Aiko juga tidak bisa menebak apa yang sedang dipikirkan orang itu. Terkejut? Heran? Marah? Beberapa saat kemudian laki-laki itu berkata dengan nada rendah dan serak. “Kau tidak apa-apa?” Aiko tidak sempat menjawab, karena mendadak saja suasana menjadi heboh.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Terpaksa Menjadi Istri Kedua Bosku

read
15.5K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
190.0K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
31.6K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
234.4K
bc

TERNODA

read
199.5K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
72.0K
bc

My Secret Little Wife

read
132.5K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook