*Author Pov*
Setelah libur beberapa hari, Juna, Radi, Genta juga Haqi dan Rio kembali melakukan latihan mereka untuk babak penyisihan pertama yang akan di adakan sebentar lagi. Alvan pun sebagai pelatih mereka langsung memberikan jadwal latihan yang cukup padat dari pada sebelum nya.
Terlebih setelah mereka merasakan bertanding bersama White Lily juga Elang, Alvan merasa kemampuan para anggota nya semakin meningkat. Belum lagi latihan bersama dengan Sena di waktu libur mereka beberapa kali.
"Juna! jaga posisi kamu, fokus kemana bola akan datang!" teriak Alvan saat mereka sedang berlatih.
Teriakan demi teriakan yang di keluar dari mulut pelatih mereka terdengar menggema, hampir semua anggota yang bermain terkena omelan dari pelatih mereka, yang lolos dari omelan itu hanya Riri seorang.
"Oke, untuk hari ini cukup sampai di sini." ucap Alvan menghentikan latihan mereka.
Juna bergegas mengambil minuman milik nya karena sudah sangat haus, Radi dan Genta malah berbaring di lantai karena kelelahan.
"Thanks, Ri." ucap Radi setelah menerima botol minumnya.
"Kayaknya abis ini gw mau minta di pijitin sama nyokap deh, gila kaki gw sakit banget." kata Genta sambil meregangkan kakinya.
"Itu karena pemanasan mu kurang maksimal, jadi otot di kaki kamu menegang. Apalagi kemarin kalian libur beberapa hari, yah walaupun terkadang kalian ada latihan mandiri dengan ketua klub White Lily." ucap Alvan pada Genta.
Setelah membereskan semuanya, mereka semua mengganti baju di ruang klub.
"Jun, besok gw nyontek PR lo ya? kayanya pulang nanti gw mau langsung tepar." kata Radi dengan matanya yang sudah lelah di tambah badannya yang sangat pegal.
Rio terkekeh mendengar aneka rengekan dari adik kelasnya itu.
"Sepertinya badan kalian kaku lagi, padahal hanya libur beberapa hari. Sepertinya mulai besok latihan kita akan aku buat lebih berat supaya badan kalian kembali terbiasa." ujar Rio dengan senyum lebar tanpa dosanya itu.
Radi, Juna, juga Genta hanya bisa menelan ludah mereka masing-masing. Sekelebat bayangan tubuh terkapar mereka di lantai gedung olahraga langsung muncul di benak mereka.
Mati kita!
*