Lima Puluh Empat

1335 Kata
*Author Pov* Genta merasa hari ini adalah hari keberuntungannya, sebelum dirinya juga anggota tim yang lain kembali berlatih. Genta memang sengaja untuk mengunjungi pameran kesenian juga bazar buku. Saat ia sedang melihat-lihat buku, ia bertemu dengan Riri juga Febi di sana. "Loh, kalian juga dateng ke bazar buku ini toh." Sapa Genta pada kedua temannya itu. "Gw sih nemenin Febi nyari buku. Lo sendiri ada di sini?" "Gini-gini sebelum gabung klub sepak takraw gw pernah jadi anggota mading." Jawab Genta sambil tersenyum miring. Mereka bertiga memutuskan untuk berkeliling bazar bersama, dan saat itu pula lah Genta baru tahu jika Riri menyukai antariksa. Walaupun kecintaannya terhadap Sepak takraw lebih tinggi. Tidak banyak orang yang mengagumi antariksa sepertinya. Kebanyakan mereka hanya mengagumi bintang saja. Genta juga dia selalu mengagumi bintang-bintang yang berada di langit luas, hanya saja kekaguman Genta akan langit semakin besar. Ia bukan hanya lagi mengagumi bintang tetapi juga semua yang berhubungan dengan angkasa. Selama mengelilingi bazar, Riri dan Genta mengobrol banyak hal. Bahkan Febi merasa terasingkan sesaat. Tadinya Genta ingin mengajak mereka berdua makan lebih dahulu sebelum pulang, tapi Riri bilang hari ini ia akan mengenap di rumah Febi, jadi Genta hanya menunggu mereka hingga taksi online pesanan mereka datang. Sesampainya di rumah Genta memarkirkan motornya di halaman depan rumahnya. Ia membuka helm, dan mengambil bungkusan makanan yang sejak tadi ia taruh di bagasi jok motor. Dengan langkah santai nya ia memasuki rumahnya. Terdengar suara tv dari ruang tengah, Genta melihat jam di pergelangan tangannya. Sudah pukul 10 malam, padahal Genta sudah meminta ibunya untuk tidak menunggunya pulang. Ia melangkah menuju ruang tv tepat di mana ibunya berada. Pemuda itu tersenyum tipis melihat ibu tercintanya, "Mah, kok belum tidur?" Mamah menoleh kearah anak samata wayangnya lalu tersenyum lembut, "Mamah nunggu kamu." "Kan Genta udah bilang, kalau hari ini Bintang pulang malem jadi nggak usah nunggu Bintang." "Mamah tuh nggak bisa tidur kalau belum liat kamu pulang." Mamah melihat bungkusan yang di bawa oleh Genta lalu menunjukan jarinya, "Itu apa?" Genta melihat bungkusan yang ia bawa lalu tersenyum. "Martabak asin sama martabak manis, Mamah mau?" tanyanya sambil berjalan kearah dapur untuk menaruh makanannya. "Martabaakk? Mamah maauu!" Genta tertawa keras. Ibunya selalu seperti ini, jika sudah menyangkut tentang martabak manis kesukaannya, pasti Mamah akan berubah girang seperti anak-anak. * Bel yang menandakan pelajaran pertama telah usai berdering nyaring. Begitu guru keluar dari ruang kelas mereka, Genta segera merapihkan buku-bukunya. "Tang, lo kemaren jadi pergi ke bazar buku itu?" Tanya salah satu teman sebangku Genta. Genta merubah posisi duduknya menghadap temannya itu. Ia mengangguk, "Yoi dong, lo tau sendiri gw nggak mungkin ngelewatin itu." "Sorry ya, gw nggak jadi dateng kemaren. Cewek gw tiba-tiba minta anter gw soalnya." Genta tertawa sambil mengacungkan jempolnya, "Santai aja lah Di." Sambil terus mengobrol, mereka mengganti seragam mereka dengan seragam olahraga. Begitu selesai mengganti pakaian mereka, Genta dan murid yang lain mulai berkumpul di lapangan tengah, bersiap untuk pelajaran olahraga. "Karena hari ini saya ada urusan mendadak, untuk pelajaran olahraga kali ini bebas. Asalkan tidak mengganggu kelas lain. Dion, kamu awasin teman-teman kamu." "Siap, Pak!" Setelah Pak Yudha pergi meninggalkan lapangan, Dion memimpin teman-temannya untuk melakukan penasan. Dan setelahnya Dion, Genta dan anak laki-laki yang lain memilih untuk bermain sepak bola sedangkan anak perempuan memutuskan untuk bermain volly. "Oii! Pass bolanya ke sini!" "Bacot! Gw mau ngegol'in sendiri!" Bola yang di tendang Ando berhasil di halau Dion sang kiper. "Aaaaggghh!" Ando melayangkan tinju di udara karena kesal tendangannya berhasil di tangkap Dion. "Kan gw udah bilang, oper!" "Bacot lo!" Genta hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkah teman-temannya. "Ndo!" Panggil putri sambil berlari kecil ke pinggir lapangan. Ando berjalan mendekati putri, ia mengacak pelan rambut gadisnya. "Gak usah pacaran di sini juga sabi kali." "Makannya punya pacar! Dasar jomblo." "Heh gini-gini gw JOJOBA ya!" "Bacot anjir, bodo amat!" Ando melingkarkan tangannya di bahu Putri dan mengajaknya untuk pergi dari sana. "Woi! Lanjut gak nih?!" Teriak Genta dari tengah lapangan. Dion melihat pergelangan tangannya, sepuluh menit lagi istirahat. Dion melihat Genta dan balas berteriak, "Gen, udahan aja. Bentar lagi istirahat." Genta mengacungkan jempolnya, lalu berjalan meninggalkan lapangan bersama teman-temannya yang lain. Genta dan Dion memutuskan untuk mengisi perut terlebih dahulu sebelum mengganti seragam olahraga mereka dengan seragam sekolah lagi. Genta menaruh nampan berisi sepaket ayam goreng, dan duduk di sebelah Dion yang sudah lebih dulu melahap soto ayamnya. "Jadi gimana pameran sama bazar nya?" "Menarik dan ternyata rame juga. Gw kira gak akan seramai itu." Dion menyeruput kuah sotonya sebelum melanjutkan, "Iya lah, apalagi cewek-cewek sama anak senja tuh. Yah tapi gak se freak lo sih." kata Dion sambil nyengir lebar. "Sialan lo!" Rasa kesemutan luar biasa tiba-tiba di rasakan oleh Genta. Hampir saja ia menjatuhkan botol sambal yang sedang ia penggang. Dion mengerutkan keningnya, "Kenapa lo?" Genta menggeleng sambil memutar-mutar bahunya. "Gak tahu nih, tiba-tiba kesemutan." "Dasar Tua, makannya pas pemanasan jangan males-malesan." "Anjir lo." Genta tergelak sambil menimpuk teman baiknya itu. * Sepulang dari sekolah, Genta menghampiri kelas Juna karena ingin mampir ke rumahnya tapi begutu tiba di sana, Haikal bilang Juna sudah pulang lebih dulu karena sakit perut. Jadilah ia memutuskan untuk mampir ke rumah teman baiknya itu. Sedangkan Haikal sendiri akan menyusul nanti setelah selesai piket. Genta mengetuk pintu depan rumah Juna, tidak lama pintu terbuka dan seorang wanita cantik yang seumuran dengan ibunya itu muncul. Senyum mamah Juna terbit begitu melihat siapa tamu yang datang. "Eh nak Genta, Tante kira siapa. Tuuhh, Juna ada di kamarnya. Gih langsung masuk aja." Genta tersenyum ramah, lalu menyerahkan bungkusan yang ia bawa. "Apa ini?" "Tadi Genta lewat toko Leker kesukaan tante, jadi Genta mampir buat beli deh. Hehehe...." Tante Ria menepuk bahu Genta pelan, "Makasih ya, repot-repot aja kamu bawain. Sudah sana samperin Juna nya. Abis itu makan siang sama-sama." "Siapa laksanakan!" Genta langsung berlari kecil menuju kamar Juna yang berada di lantai dua. Dengan tanpa ucapan permisi atau sebagainya, Genta langsung membuka pintu kamar Juna lebar-lebar. "Selamat siaaangg jendral!" Sebuah bola kertas melayang tepat di kepala Genta. "Kalau masuk kamar gw ketuk pintu dulu babi! Apa gunanya tuh pintu!" "Ihh! Kok lo gak pake baju sih Jun? m***m lo! Jangan apa-apain adek bang! Ade masih suci!" "Najis!" Genta tertawa keras dan mendudukan pantatnya di atas kasur empuk Juna. Sedangkan sang empunya kasur masih berganti pakaian. "Jun." "...." "Junaaaaa." "...." "Abaaang Junaaaaa!!" "Anj-! Gw denger, kaga budeg." Genta terkekeh melihat raut kesal wajah temannya. Jika orang yang belum mengenal Juna, pasti mengira kalau Juna itu cool karena tampangnya yang selalu lurus. Tapi sebetulnya Juna itu cukup cerewet jika sudah nyaman dengan seseorang. Baik itu perempuan ataupun laki-laki. Bukannya cerewet seperti perempuan yaa, hanya saja lebih banyak bicara, dan tentu saja lebih banyak juga u*****n yang dia lontarkan. Tapi kata u*****n itu hanya Juna keluaran pada laki-laki saja. Juna itu amat sangat menghargai wanita. Ia tidak akan gampang marah pada wanita, yah terkecuali jika sudah benar-benar keterlaluan di mata Juna seperti kasus Sania kemarin. Ia bahkan merasa bersalah karena sudah membuat Riri dan Sania saling mendiamkan. Genta membaringkan dirinya di tempat tidur, "Pas kemaren gw ke pameran. Gw ketemu Riri." "Emang itu pameran khusus laki-laki makannya lo kaget ada Riri di sono?" Tanya Juna. "Ya bukan gitu, babi. Maksud gw tuh, kayaknya dewi keberuntungan lagi berada di pihak gw." "Oh." "Kok 'oh' doang sih?" Juna menghela nafasnya, "Ya terus lo mau gw bereaksi seperti apa tuan Genta?" "Nanya kek, apa gitu." "Jadi Riri kenapa?" Tanya Juna dengan malas. "Ck ah, lo mah. Gak bisa di ajak curhat." Juna berjalan kearah Genta lalu menyentuh dahinya, "Kaga panas. Lo kesambet apaan sih?" "Hadehh...hadeeehh gimana lo mau dapet cewek kalau lo aja belum bisa jadi pendengar yang baik buat gw. Anjay." Juna menoyor kepala Genta, "Monyet." Melihat Juna yang kembali duduk di meja belajarnya, membuat Genta merubah posisinya menghadap Jun. "Gw ngerasa cewek ini nih yang selama ini gw cari." Tidak ada lagi percakapan setelahnya. Genta tahu jika Juna bukan mendiamkannya. Tetapi temannya itu tahu jika Genta saat ini hanya butuh di dengar untuk bercerita. Tetapi pikiran Genta sendiri sudah melanglang buana entah kemana. *
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN