Tujuh Puluh Enam

1179 Kata
*Author Pov* Juna memarkirkan sepeda motornya begitu tiba di toko buku bersama Haikal. Bangunan itu cukup ramai dipenuhi pelajar yang sedang mencari buku pelajaran, novel, hingga perlengkapan sekolah. Kemarin guru Bahasa Indonesia mereka memberikan tugas membuat kliping. Karena itulah Juna dan Haikal sepakat mencari referensi langsung dari buku dan majalah agar hasil tugas mereka lebih lengkap. Begitu memasuki gedung, Haikal langsung melirik denah toko yang terpajang di dekat eskalator. "Rak sejarah sama majalah pendidikan di lantai tiga. Kita langsung ke sana aja?" Juna baru saja hendak mengangguk ketika wajahnya berubah sedikit. "Kal, lo naik duluan aja deh." "Loh, kenapa?" Haikal menoleh heran. Juna menunjuk ke arah lorong toilet sambil meringis, "Gw ke toilet dulu. Dari tadi nahan." Haikal terkekeh kecil. "Yaudah sana. Ntar gw lihat-lihat dulu. Siapa tahu udah nemu buku yang kita cari." "Jangan diborong semua." "Tenang aja. Duit gw juga pas-pasan." Juna tertawa singkat sebelum berlari kecil menuju toilet, sampai beberapa menit kemudian Juna keluar sambil mengeringkan tangannya menggunakan tisu. Baru dua langkah meninggalkan wastafel, seseorang memanggil namanya. "Juna?" Ia menoleh ke belakang. "Oh, Sena." Kapten White Lily itu menghampirinya sambil tersenyum tipis, "Gw kira tadi salah lihat. Ngapain lo ke sini?" "Nyari referensi buat tugas sekolah," jawab Juna sambil mengangkat tas ranselnya sedikit. "Guru Bahasa Indonesia nyuruh bikin kliping. Katanya sumbernya gak boleh asal dari internet doang." "Pantes bawa tas gede. Gw kira habis latihan." jawab Sena mengangguk paham. "Belum. Ini urusan sekolah dulu." "Kebetualn gw lagi kumpul sama Rio sama Haqi di Tea Caffe rooftop." "Hah? Bang Rio juga?" "Iya. Sekalian ngobrol santai. Lo sama temen lo mau gabung?" Juna tersenyum canggung, "Pengennya sih iya. Tapi gw udah janjian sama Haikal. Habis beli buku kita mau langsung ngerjain tugas bareng. Guru Bahasa Indonesia gw lumayan sadis kalau soal nilai. Sekali tugas asal-asalan, langsung dipotong." "Berarti lebih serem guru lo daripada lawan di lapangan." "Kurang lebih begitu." "Yaudah. Tapi kalau nanti ternyata masih ada waktu, naik aja. Kita masih lama kok di atas." "Iya, nanti kalau sempat." Sena menepuk pelan bahu Juna, "Oke. Gw duluan ya." Keduanya berpisah di depan lorong. Sena berjalan menuju eskalator yang mengarah ke rooftop, sementara Juna masuk ke eskalator lain menuju lantai tiga. Suasana lantai tiga jauh lebih tenang. Deretan rak buku tersusun rapi, sementara beberapa pengunjung terlihat sibuk membuka lembar demi lembar buku sebelum memutuskan untuk membelinya. Juna menyusuri lorong sejarah hingga akhirnya menemukan Haikal yang sedang berdiri di depan rak sambil memegang dua buku cukup tebal. "Lama juga lo," celetuk Haikal tanpa mengalihkan pandangan dari buku di tangannya. "Gw kira lo nyasar." Juna mendengus pelan, "Mana mungkin nyasar. Tadi ketemu Sena di bawah." "Sena? Kapten White Lily itu?" "Iya. Dia lagi nongkrong sama Bang Rio sama Kak Haqi." "Oh... pantes. Gw sempat lihat orang mirip Bang Rio waktu naik eskalator." Juna mengambil sebuah buku dari rak lalu membolak-balik isinya, "Dia ngajak kita gabung juga." "Lah, terus?" "Gw tolak. Kan kita udah ada rencana ngerjain tugas." Haikal menutup buku yang sedang dibacanya lalu menyandarkan punggung ke rak. "Sebenernya kalau cuma mampir bentar gak masalah juga." "Hah?" "Iya. Tugas kita kan gak bakal lari. Lagian jarang-jarang juga Bang Rio nongkrong santai di luar latihan." Juna terdiam beberapa saat. Ucapan Haikal memang ada benarnya. Selama ini setiap bertemu Rio, yang mereka bahas hampir selalu latihan, strategi, atau pertandingan. Hampir tidak pernah sekadar mengobrol santai. "Tapi kita juga gak enak kalau kelamaan." "Ya jangan kelamaan. Cari buku dulu sampai beres. Kalau masih sempat, kita mampir lima belas menit. Habis itu cabut." "Lo mah gampang banget berubah rencana." "Namanya juga fleksibel, yang penting tugas selesai." Juna menggeleng sambil tertawa pelan. Mereka kembali menyusuri rak buku satu per satu, sesekali berhenti ketika menemukan referensi yang dirasa cocok. Rak demi rak mereka lewati dengan santai. Sesekali Haikal mengeluarkan komentar receh saat melihat judul buku yang terdengar aneh, membuat Juna hanya bisa menggeleng sambil tertawa. Suasana toko buku yang tenang membuat mereka betah berlama-lama mencari referensi. "Nah, ini kayaknya bisa," ucap Juna sambil menarik sebuah buku dari rak. Haikal mendekat lalu membaca sekilas daftar isinya. "Cocok tuh. Tinggal cari satu referensi lagi, habis itu beres." "Syukur deh. Gw udah capek muter-muter dari tadi." "Makanya jangan milih-milih amat." "Bu Ratna yang nyuruh sumbernya minimal tiga. Kalau asal ambil, ntar malah disuruh revisi." "Iya juga sih." Sekitar dua puluh menit kemudian, buku dan majalah yang mereka butuhkan akhirnya terkumpul. Juna mengecek kembali daftar tugas di ponselnya, memastikan tidak ada yang tertinggal. "Udah lengkap?" "Harusnya sih udah." "Berarti kita jadi ke rooftop?" Juna melirik jam di pergelangan tangannya. Waktu sudah berjalan cukup lama. "Ah, gak usah deh." "Lho, katanya tadi—" "Gapapa. Bang Rio juga pasti lagi ngobrol santai. Masa kita datang cuma buat numpang duduk bentar." Haikal mengangguk pelan. "Iya juga. Lagian kita juga masih harus ngerjain tugas." "Besok atau pas latihan juga ketemu lagi. Kalau emang ada yang mau diceritain, paling Bang Rio sendiri yang bakal ngomong." "Nah, itu baru masuk akal." Mereka pun membawa tumpukan buku menuju meja baca untuk mencatat beberapa poin penting sebelum pulang. Ajakan Sena perlahan terlupakan begitu saja karena perhatian mereka kembali tersita oleh tugas sekolah yang harus segera diselesaikan. *** Peluit Alvian terdengar nyaring begitu seluruh anggota Harimau Putih berkumpul di lapangan latihan. "Yang datang duluan langsung pemanasan! Jangan nunggu disuruh terus." "Iya, Coach!" sahut beberapa anggota hampir bersamaan. Juna baru saja meletakkan tasnya ketika melihat Rio sedang membantu Riri mengeluarkan keranjang bola dari gudang kecil di pinggir lapangan. Di sisi lain, Genta dan Radi sudah lebih dulu berlari mengelilingi lapangan sambil saling mengejek siapa yang paling lambat. "Lari yang bener, woy!" teriak Haqi. "Ini namanya ngatur tenaga." "Ngatur tenaga kepala lo." Gelak tawa langsung pecah. Suasana latihan kembali seperti biasanya. Juna ikut tertawa sebelum mengambil beberapa cone latihan yang berada di dekat gudang. Saat berjalan melewati Rio, ia baru teringat pertemuannya dengan Sena di toko buku. "Bang Rio, kemarin gw ketemu Kak Sena di toko buku. Katanya Bang Rio sama Kak Haqi lagi nongkrong di rooftop. Gw kira lagi bahas sesuatu yang penting." Rio langsung tertawa kecil sambil menggeleng, "Enggak ada yang penting kok." "Beneran?" "Iya. Awalnya Sena ngajak ngopi doang. Terus ngobrol ngalor-ngidul." Haqi yang sejak tadi mendengar percakapan mereka ikut menyahut. "Isinya malah lebih banyak Sena yang curhat." "Curhat?" tanya Juna penasaran. Rio mengangguk pelan, "Dia lagi bingung nyusun latihan buat anak-anak White Lily. Katanya habis kalah kemarin, semangat timnya sempat turun." "Kirain bahas strategi pertandingan." "Mana mungkin." Rio terkekeh. "Kalau udah masuk urusan strategi, mana ada pelatih atau kapten yang mau cerita ke calon lawan." "Ya juga sih." "Tapi..." Rio melanjutkan sambil mengambil bola yang sudah selesai dipompa, "Sena sempat bilang sesuatu." "Apa tuh, Bang?" "Dia bilang, kalau nanti kita ketemu lagi di babak berikutnya... dia berharap yang menang benar-benar tim yang bermain paling baik." Juna terdiam beberapa saat. Entah kenapa, kalimat sederhana itu justru membuat semangatnya kembali muncul. Belum sempat ia menjawab, suara peluit Alvan kembali terdengar. "Udah selesai ngobrolnya? Sekarang kumpul semua! Kita mulai latihan game situation." "Iya, Coach!" Juna segera berlari menghampiri teman-temannya. Percakapan singkat itu pun berakhir begitu saja, berganti dengan suara bola takraw yang kembali dipantulkan dan teriakan Alvian yang memenuhi lapangan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN