*Author Pov*
Karena latihan sudah mulai dilakukan hampir setiap hari, selain memakai gedung olahraga sekolah, mereka juga kembali meminjam lapangan yang berada tidak jauh dari rumah Alvan seperti biasanya.
Lapangan itu memang tidak sebesar gedung olahraga sekolah. Rumput di beberapa sudut bahkan sudah mulai menipis akibat terlalu sering digunakan. Garis lapangannya juga tidak selalu terlihat jelas. Namun tempat itu memiliki satu kelebihan yang membuat mereka selalu nyaman berlatih di sana.
Tempat itu terasa seperti rumah kedua bagi klub Harimau Putih. Banyak perkembangan mereka yang dimulai dari lapangan sederhana tersebut. Dari latihan pertama yang masih berantakan, seperti saat bola lebih sering jatuh daripada berhasil dikembalikan, sampai sekarang ketika mereka sudah mampu melewati babak penyisihan pertama kompetisi antar sekolah.
Setelah pulang sekolah, Rio meminta anggota yang lain berangkat lebih dulu bersama Haqi karena ia harus menyelesaikan tugas piketnya terlebih dahulu.
Ternyata yang datang paling awal adalah Juna dan Haqi. Mereka memarkirkan motor di bawah pohon besar yang berada tidak jauh dari lapangan.
Juna melepas helmnya lalu mengusap tengkuknya pelan. Udara terasa cukup hangat, namun masih jauh lebih nyaman dibanding berlatih di dalam gedung yang tertutup.
"Jun, gue boleh nanya sesuatu?"
Juna menoleh ke arah Haqi yang sedang menurunkan tas olahraga dari motornya. "Nanya apa, Kak?"
Haqi terlihat ragu beberapa detik. "Lo ada masalah sama Riri?"
"Hah? Enggak ada masalah apa-apa kok."
"Bener?"
"Iya."
Haqi mengangguk pelan sedangkan Juna sendiri ikut berpikir. Kalau dipikir-pikir, memang ada sesuatu yang terasa berbeda akhir-akhir ini.
Riri masih membantu latihan seperti biasa. Masih menyiapkan minuman, masih mencatat hasil latihan, masih menjalankan tugasnya sebagai manajer klub.
Namun memang sikapnya terkadang berubah-ubah. Ada hari di mana Riri mengobrol seperti biasanya tetapi juga ada hari lain di mana gadis itu terlihat menjaga jarak.
"Kalau dipikir-pikir sih emang agak aneh."
"Maksudnya?"
"Kadang dia biasa aja. Kadang kayak cuek banget sama gue."
"Lo pernah tanya langsung?"
Juna menggeleng. "Belum sempat."
"Kenapa?"
"Soalnya tiap gue mau ngajak ngobrol, dia keburu pergi ke tempat lain."
"Yang penting kalian gak bertengkar sih"
Juna sendiri sebenarnya masih bingung. Namun ia memilih untuk tidak terlalu memikirkannya. Setidaknya untuk sekarang.
Karena masih ada banyak hal lain yang harus ia sendiri pikirkan. Latihan, ujian dan pertandingan berikutnya.
Tidak lama kemudian suara motor mulai terdengar dari kejauhan. Radi dan Genta datang hampir bersamaan.
Radi turun dari motor sambil membawa tas besar di punggungnya. Sedangkan Genta datang dengan santainya sambil membawa minuman kemasan di tangan.
"Lah, kalian cepet amat." ucap Radi begitu melihat Juna dan Haqi sudah menunggu.
"Yeee, kalian yang datengnya lama."
"Belum juga mulai latihannya."
"Kalau datang terlalu cepat itu namanya menyiksa diri." ucap Radi lagi sambil meletakan tasnya di tanah.
"Kalau datang telat?"
"Itu namanya menikmati hidup." Radi langsung menepuk bahu temannya itu.
Mereka tertawa kecil. Suasana santai seperti itu selalu membuat waktu sebelum latihan terasa menyenangkan. Satu per satu anggota lain mulai berdatangan. Dan Rio muncul beberapa menit kemudian sambil membawa tas olahraga dan beberapa lembar kertas.
"Kok bawa kertas?" tanya Radi.
"Jadwal latihan."
"Serem amat."
"Belum lihat isinya aja udah takut."
"Karena yang bawa lo, pasti bukan kaleng-kaleng nih."
Rio hanya tertawa. Sementara itu Riri datang tidak lama setelahnya.
Gadis itu membawa tas kecil dan papan catatan yang sudah sangat akrab di tangan para anggota klub.
"Ri!" panggil Genta.
"Apa?"
"Laper."
Riri langsung menghela napas. "Belum mulai latihan udah laper? Emang perut lo gak punya tombol off ya?"
Radi langsung tertawa keras. "Pertanyaan bagus." Riri hanya menggeleng geli.
Melihat keributan kecil itu, Rio tanpa sadar tersenyum. Beberapa bulan lalu mereka bahkan tidak saling mengenal sedekat sekarang.
Namun kini suasana seperti itu terasa biasa. Mereka bukan hanya anggota klub, perlahan menjadi teman yang benar-benar saling mengenal.
Priiit!
Suara peluit Alvan memecah obrolan mereka. "Oke! Pemanasan dulu!"
Semua segera bergerak. Mereka berlari mengelilingi lapangan beberapa putaran. Setelah itu dilanjutkan dengan peregangan.
Tidak ada yang berani main-main saat pemanasan. Mereka sudah beberapa kali merasakan bagaimana rasanya otot kram akibat kurang serius melakukan peregangan. Terutama Genta.
"Jangan malas." ucap Haqi saat melihat Genta asal menggerakkan tangan.
"Ini serius kok."
"Kelihatannya enggak."
"Aku tersinggung."
Juna tertawa kecil mendengarnya. Setelah pemanasan selesai, latihan inti pun dimulai. Bola takraw mulai berpindah dari satu pemain ke pemain lain.
Tak.
Tak.
Tak.
Suara bola yang terkena kaki terdengar berulang kali memenuhi lapangan. Juna menerima umpan dari Rio. Ia mengangkat kakinya lalu mengembalikan bola dengan cepat. Gerakannya jauh lebih baik dibanding beberapa bulan lalu.
Rio yang melihat itu pun merasa puas. Perkembangan Juna memang luar biasa. Bukan hanya tekniknya yang meningkat tetapi juga kemampuannya membaca permainan berkembang sangat cepat.
Begitu pula dengan Radi dan Genta. Meskipun keduanya masih sering bercanda, kemampuan mereka tidak bisa diremehkan lagi.
Alvan memperhatikan semuanya dari pinggir lapangan. Sebagai pelatih, ia tahu masih banyak kekurangan yang harus diperbaiki.
Namun jika dibandingkan dengan saat klub ini pertama kali berjalan, perbedaannya sangat jauh. Mereka sudah berkembang. Dan yang terpenting, mereka berkembang bersama.
"Komunikasi! Fokus!" teriak Alvan. "Jangan diam!"
Semua langsung merespons.
"Kiri!"
"Belakang!"
"Ambil!"
"Cover!"
Lapangan yang tadinya hanya dipenuhi suara bola kini dipenuhi suara para pemain yang saling memberi instruksi. Alvan mengangguk pelan. Inilah yang ingin ia lihat. Kerja sama, bukan permainan individu.
Latihan berlangsung cukup lama, keringat mulai membasahi pakaian mereka bahkan napas mereka juga semakin berat.
Namun tidak ada yang mengeluh. Mereka tahu waktu latihan akan jauh berkurang saat masa ujian dimulai. Karena itu setiap sesi terasa berharga.
Saat peluit istirahat akhirnya berbunyi, semua langsung duduk di pinggir lapangan. Radi bahkan langsung berbaring di rumput.
"Aduuhhh."
"Baru juga satu sesi." kata Juna.
"Justru itu masalahnya. Masih ada sesi berikutnya tapi badan gue udah remuk."
Mereka tertawa ketika Riri mulai membagikan botol minuman yang sudah disiapkannya. Satu per satu anggota menerima minuman masing-masing.
"Makasih."
"Makasih ya."
"Thanks."
Riri hanya mengangguk kecil. Pandangannya sesekali memperhatikan anggota klub yang sedang beristirahat. Entah sejak kapan, kegiatan sederhana seperti ini mulai terasa menyenangkan baginya.
Melihat mereka bercanda, melihat mereka berlatih dan melihat perkembangan klub yang perlahan semakin baik.
Ada rasa bangga yang sulit dijelaskan. Rio meneguk minumannya sambil menatap lapangan. Di kepalanya sudah ada banyak rencana untuk latihan berikutnya.
Masih ada beberapa pola permainan yang ingin ia coba, masih ada beberapa kelemahan yang harus diperbaiki. Namun untuk saat ini, ia memilih menikmati suasana sederhana tersebut. Momen ketika seluruh anggota klub berkumpul tanpa memikirkan pertandingan.
Tanpa memikirkan hasil, tanpa memikirkan tekanan. Hanya latihan biasa. Latihan yang membuat mereka perlahan semakin kuat. Dan tanpa disadari oleh siapa pun, langkah mereka menuju babak berikutnya sudah semakin dekat.