Bab 58

2525 Kata

Pertanyaan itu membuat Respati terdiam. Jakunnya bergerak naik-turun perlahan. Tatapannya terpaku pada Aira. Mata perempuan itu berkaca-kaca. Bukan karena sedih, melainkan ada kesan lelah karena tekanan yang terlalu besar. “Rasa percaya diri kamu terlalu besar, Aira.” Respati menyingkirkan jemarinya dari dagu Aira. Wajah Aira berpaling. Tangannya turun dari setir kemudi. “Aku capek, Mas. Aku butuh istirahat.” “No!” Penolakan itu terdengar tegas. “Tidak ada waktu istirahat sebelum kamu berhasil menyetir sampai ke ujung utara.” “Kenapa semua harus dipaksa, sih, Mas?!” Aira bertanya lantang. Respati memperhatikan perempuan di sampingnya tanpa berkata apa-apa. Biasanya Aira akan diam dan hanya menerima. Namun, kali ini perempuan itu benar-benar terlihat kehabisan tenaga. Bahunya berge

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN