Malam sudah cukup larut saat mobil Kallandra memasuki halaman rumah Hanggara. Rumah besar itu tampak jauh lebih sepi dibanding biasanya. Sejak kondisi kesehatan Hanggara menurun selama satu bulan terakhir, Kallandra memang lebih sering menginap di sana. Bukan karena diminta, melainkan karena ia sendiri tidak tenang saat mengetahui kondisi sang kakek yang sering drop. Begitu masuk ke dalam rumah, langkah Kallandra langsung menuju ruang keluarga. Aroma obat-obatan masih samar tercium dari meja kecil di samping sofa. Hanggara duduk dengan selimut tebal menutupi kedua kakinya. Wajah pria tua itu tetap terlihat tegas seperti biasa, meski tubuhnya tidak lagi sekuat dulu. Garis kelelahan di sekitar matanya kini lebih jelas dibanding beberapa bulan lalu. “Baru pulang kamu?” Kallandra mengang

