“Kondisi Tuan Respati tidak mengkhawatirkan selama demamnya turun dalam dua hari ke depan, Nyonya.” Aira menoleh ke arah Respati yang sesekali menguman lirih. Ia lantas menatap sang dokter. Jemarinya yang semula saling menggenggam perlahan terlepas. Raut wajah di balik cadar itu belum menunjukkan ketenangan sepenuhnya. “Untuk luka cambuknya bagaimana, Dok?” Dokter tersebut mengangguk kecil. Tatapannya bergeser ke arah punggung Respati yang masih tertutup balutan perban bersih. Di beberapa bagian, kain putih itu tampak sedikit berubah warna karena cairan antiseptik yang meresap. “Lukanya kemungkinan mulai mengering dalam waktu satu minggu.” Dokter itu menjelaskan dengan nada tenang. “Tapi, selama dua minggu ke depan usahakan jangan ada aktivitas fisik berat. Karena sebagian lukanya

