Begitu masuk ke dalam kamar, Lily langsung merapatkan diri. Tangannya bergerak menyusuri daada bidang Respati dengan gerakan yang jelas-jelas menggoda. Namun, sebelum niatnya berlanjut lebih jauh, pria tersebut justru menahan pergelangan tangan Lily, menghentikan gerakan tersebut dengan tatapan yang tiba-tiba berubah serius. "Tunggu dulu." Ia melepaskan diri dari rangkulan Lily, mengambil jarak sejenak. "Hape kamu?” Lily mengerutkan kening, kebingungan dengan permintaan mendadak tersebut. "Buat apa, Kak?" "Kasih saja." Meski heran, Lily akhirnya menyerahkan ponselnya tanpa banyak protes. Ia begitu percaya diri bahwa tidak ada yang perlu ia sembunyikan dari pria tersebut. Respati mengambil alih ponsel itu, membuka beberapa aplikasi dengan cekatan, menelusuri riwayat pesan dan lokasi y

