Bab 1
"Ahhh..... sakit....."
"Tahan sebentar, kamu masih sempit sekali."
"Uh .... pelan.... ahhh ....."
"Nikmatin, dan nggak akan sakit lagi setelah ini." bisik laki-laki itu.
#
Satu jam sebelumnya, Velicia terlihat duduk sendirian di tengah sebuah pesta yang di adakan sahabatnya.
"Vel, kenapa malah diam di sini? Nggak gabung sama yang lain?"
"Nggak, ngapain kamu ngadain pesta di club malam gini? Nggak salah tempat?"
Rania tersenyum, tapi Velicia tahu jika senyum itu tak tulus kepadanya.
"Ayolah Vel, kita udah dewasa. Wajar dong, ke club sekali-kali. Aku juga mau kenalin kamu sama seseorang. Dari kemarin dia nanyain kamu terus."
Sebelah alis Velicia terangkat.
Lalu dia mengikuti Rania yang tiba-tiba menarik tangannya menuju meja yang penuh dengan teman-teman Rania.
"Vel, ini Remon. Dia tertarik sama kamu katanya, kenalan ya? Siapa tahu cocok. Lumayan kan dari pada jomblo."
Velicia menatap tangan yang sedang terulur ke arahnya lalu menyambutnya sebentar.
"Vely.... "
Remon lalu mendekat ke arah Velicia, duduk dan merangkul pundak Velicia.
Sedangkan Rania sudah tersenyum licik di balik gelas yang dia minum saat ini.
"Aku nggak nyangka kalau Rania akan seperti ini!" batin Velicia.
Velicia masih mengikuti apa yang di lakukan Rania sampai segelas minuman terulur ke arahnya.
"Vel, minum ya? Hari ini 'kan aku ulang tahun, jadi anggap buat ngerayain ulangtahun ku."
Rania meminta itu dengan memasang wajah penuh harap.
Velicia mengangguk, menerima minuman itu lalu menenggaknya sampai habis. Sementara Rania tersenyum puas melihat itu.
"Makasih ya, kamu baik banget. Emang sahabat terbaik ku sih."
Velicia tak menyahut, tubuhnya terasa panas. Dadanya berdebar hebat dan Velicia tahu apa yang terjadi.
"Obat perangsang." batin Velicia.
"Aku ke toilet sebentar, lanjut aja. Nanti aku yang bayar semuanya!"
"Aku antar ya?" tawar Rania.
Velicia menggeleng, di memilih pergi sendirian.
Setelah mengatakan itu, Velicia pergi dengan cepat. Rania memberi kode pada Remon untuk menyusul Velicia.
"Uh....tambah panas."
Velicia melonggarkan baju yang dia kenakan. Pandangannya mulai kabur karena efek obatnya mulai bekerja.
Belum sempat, Velicia sampai di kamar mandi tangannya sudah di tarik oleh seseorang.
Sret ....
"Ahhh ......"
Tubuh Velicia terbentur dinding di belakangnya. Belum hilang rasa terkejutnya, matanya membola ketika sebuah benda kenyal menempel di bibirnya.
Namun, karena Velicia juga terkena obat, Velicia juga tak menolaknya.
"Uhh .... dingin badan nya. Aku mau peluk." racau Velicia.
Tangan Velicia mulai meraba d**a bidang laki-laki yang baru saja mencium nya.
"Kamu mau?" bisik laki-laki itu.
"Mau, mau pegang, mau cium. Ahhhh, badan ku panas. Mau buka baju."
Laki-laki yang berada di hadapan Velicia langsung menggendong Velicia lalu membawanya ke ruangan VVIP miliknya.
Laki-laki Itu kembali mencium Velicia tanpa ampun yang membuat Velicia kelabakan. Dia ingin menolak tapi tubuhnya menginginkan lebih.
Laki-laki itu menggeram tertahan ketika tangan Velicia tak sengaja menyentuh miliknya yang sudah mengeras.
"Nakal ternyata..... "
Laki-laki itu itu berusaha untuk menjaga gejolak miliknya sendiri karena dia juga terkena jebakan seseorang.
"Jangan menyesal setelah melakukan ini!" bisiknya.
Karena pada akhirnya dia sendiri juga tak tahan dengan hasrat yang sudah di ujung tanduk.
"Uhh ... jangan menggigitku ..... geli... tapi mau lagi .... "
"Panggil namaku, Gala."
"Uhhh..... Gala....."
"Shit....."
Gala menggeram tatkala dia tak lagi bisa menahan semuanya.
Bles.....
"Argh.... sakit....."
Velicia berteriak sambil mencengkram pundak Gala. Mata Gala membola ketika merasakan sesuatu yang robek di bawah sana.
"Kamu.... "
Velicia membuka matanya lalu pandangan mereka saling bertemu.
"Lanjutkan saja, please ...."
Galasena menunduk mencium sudut mata Velicia yang mengeluarkan air mata.
"Aku akan lembut dan nggak akan nyakitin kamu." bisik Gala.
Velicia mengangguk, lalu mereka menyatu dengan semua kenikmatan yang ada.
Gala bahkan tak bisa berhenti meskipun mereka berkali-kali sudah mencapai puncak mereka.
#
Sementara itu, di luar, Rania kelimpungan mencari keberadaan Velicia.
"Sialan, ke mana Velicia, dia sudah terkena obat itu. Kenapa cepat sekali menghilangnya?"
Rania di bantu Remon, laki-laki yang dibayar oleh Rania untuk menjebak Velicia.
"Argh, kacau. Aku ingin membuatnya malu dan di benci oleh Prama, tapi kenapa malah nggak ada?"
Remon yang sejak tadi mengikuti Rania merasa aneh karena mereka memasuki area VVIP yang tak bisa di masuki oleh sembarang orang.
Perlahan Remon memilih meninggalkan Rania sendirian di sana karena tak ingin terkena masalah. Lalu Rania yang baru sadar jika dia tiba di ruang VVIP paling utama pun menyipitkan matanya ketika melihat banyak pengawal di depan sebuah ruangan.
"Nggak mungkin kan, Velicia nyasar ke sini? Nggak mungkin banget, dia juga cuma gadis biasa. Ah, sudahlah, besok aku atur ulang semuanya!"
Rania pergi dari sana dengan perasaan kesal tanpa tahu jika di dalam sebuah ruangan itu telah terjadi sesuatu yang besar.
#
Keesokan paginya, Velicia mendesis pelan karena merasa tubuhnya remuk semua dan bagian intinya terasa nyeri.
"Tunggu .... aku di mana?"
Velicia membuka matanya lebar dan memastikan keberadaan nya. Lalu melirik ke bawah perutnya ketika. merasa ada yang berat sedang menimpa perutnya.
"Kok....."
Mata Velicia membola ketika melihat wajah seorang laki-laki sedang tidur lelap di sebelahnya.
"Kyaa... Kamu siapa?"
Velicia berteriak keras dan membuat Gala menggeliat pelan.
Sekali lagi, Velicia melongo melihat tubuh Galasena yang menggoda imannya.
"Jangan berteriak, ini masih pagi."
"Kamu-aku.... kok kita..... "
Galasena langsung membuka mata nya dan bersandar pada ranjang.
"Nggak usah teriak, ingat aja apa yang kamu minta semalam sama aku. Nggak usah khawatir juga, aku akan tanggung jawab." ucap Galasena santai.
"Tanggung jawab?" cicit Velicia bingung.
"Menikahi mu, kalau kamu hamil nggak ada yang bakal hina kamu. Dan aku juga nggak mau kalau anakku nanti sampai lahir tanpa orang tua yang lengkap!"
Velicia masih mencoba mencerna semuanya. Dia menatap Galasena dengan cermat.
"Menikah? Tapi keluargamu?"
Velicia mulai mengingat siapa nama laki-laki yang tidur dengan nya itu.
"Galasena....." gumam Velicia lirih.
"Nggak usah khawatir, kebetulan aku cari istri biar nggak di jodohkan. Dan aku bakal kasih kamu apapun yang kamu mau."
"Argh, dia kira aku nggak punya duit. Tapi kalau nolak sayang banget, dia tampan, nggak rugi juga nikah sama dia. Tapi kalau ketahuan Daddy aku begini bisa di gantung!" batin Velicia.
Velicia mengigit bibir bawahnya memikirkan semua resikonya.
Melihat itu, Galasena mendadak gelisah. Terlebih pagi-pagi untuk laki-laki normal seperti dia.
" Sial, ini obatnya belum hilang apa ya? Ngelihat dia begitu pengen nerkam lagi. Tapi kalau dia nggak mau gengsi banget aku minta duluan sama dia. Kalau nggak minta, belalai ini sakit sekali!"
to be continued