Velicia langsung di tinggalkan di rumah itu sendirian dan Galasena pergi langsung ke perusahaan miliknya.
Velicia melihat sekeliling rumah itu meskipun tak sebesar rumah orang tuanya.
"Huft.... gimana kaburnya kalau begini?"
Velicia bahkan tak tahu jika setiap yang dia lakukan akan langsung muncul di layar ponsel Galasena.
"Dia mau kabur? Coba aja kalau bisa!"
Galasena menghubungi beberapa penjaga yang memang di tugaskan untuk menjaga rumah itu.
"Pastikan nyonya kalian nggak kabur dari sana. Jika sampai kabur nyawa kalian gantinya!"
Galasena mengirim pesan ke grub pengawalnya. Sedangkan dia fokus dengan video cctv untuk melihat apa yang sedang di lakukan istrinya saat ini. Terlihat jika Velicia sedang berada di kamar mereka.
Mata Galasena yang awalnya fokus akhirnya membelalak karena tiba-tiba Velicia membuka bajunya.
"s**t!"
"Apa yang dia lakukan?" pekik Galasena.
Sementara Revaldi dan sang sopir yang ada di depannya bingung dengan tingkah bos mereka.
"Kenapa sama Tuan Muda?"
Revaldi menggeleng, dia melirik ke belakang dan melihat Galasena sedang duduk dengan gelisah.
"Tuan muda, butuh sesuatu? Apa tuan muda sakit? Kalau iya kembali pulang saja bagiamana?"
Galasena terus mengumpat dalam hati karena melihat Velicia. Dia bahkan langsung menutup ponselnya karena tak mampu lagi.
"Bisa-bisanya dia melakukan itu?" batin Galasena.
#
Sementara itu, di dalam kamar, Velicia tersenyum geli ketika dia tahu kalau Galasena sedang mengawasinya.
"Gila, di mana-mana CCTV. Dia beneran mau kurung aku di rumah ini."
Velicia memang sengaja melepaskan pakaiannya setelah tahu di setiap sudut rumah terpasang kamera CCTV. Yang lebih syok lagi ketika tahu jika di dalam kamar pun ada hidden kamera.
Velicia mencari akal agar Galasena tak curiga dengan apa yang dia lakukan.
"Kamar mandi juga ada CCTV nya apa nggak ya?"
Velicia melangkah menuju kamar mandi dan melihat ke arah dalam. Ternyata di sana memang bersih, tak ada kamera sama sekali.
Belum sempat dia memikirkan bagaimana caranya pergi sementara, pintu kamarnya terbuka lebar. Matanya membola ketika melihat sosok Galasena berada di ambang pintu.
"Kok balik?" tanya Velicia bingung.
Lagi-lagi dia syok karena tiba-tiba Galasena menciumnya lebih brutal dari pada sebelumnya.
"Uhh.... Gala...."
Tangan Galasena menerobos masuk ke dalam pakaian Velicia. Lalu dengan kuat dia bermain dengan dua benda kenyal milik Velicia. Sementara bibirnya masih menciumi setiap jengkal tubuh Velicia. Belum hilang bekas kepemilikan yang sebelumnya dan sekarang Galasena menambahnya lagi lebih banyak.
"Gala..... ahhh pelan-pelan....."
Suara Velicia membuat Galasena semakin menggila. Terlebih ketika tangan Galasena juga merambah ke bagian inti milik Velicia.
Velicia yang sadar jika itu berbahaya langsung mendorong tubuh Galasena.
Napas nya tersengal dan Velicia melihat wajah Galasena yang merah menahan hasrat milik nya.
"Kamu kenapa?"
Galasena memejamkan matanya sejenak lalu mengontrol deru napasnya yang memburu.
"Ngapain kamu buka baju?" tanya Galasena.
Mata Velicia menatap tajam, dia ingin memainkan perannya saat ini.
"Kamu tahu dari mana aku buka baju? Lagian ini kan di kamar pribadi. Nggak masalah kan buka baju? Aku juga mau ganti pakaian yang lebih santai."
Velicia mengoceh panjang lalu dia kembali menatap Galasena dengan mata yang menyipit curiga.
"Jangan-jangan kamu pantau aku ya? Kamu pasang kamera CCTV di kamar kita? Buat apa?"
Nada bicara Velicia seidkit meninggi dan itu membuat Galasena menjadi panik.
"A-aku cuma mau berjaga-jaga. Rumah ini kan baru, juga kamu baru tinggal di sini. Kalau ada apa-apa gimana?"
Velicia langsung bersedekap d**a, dia menatap Galasena kesal.
"Kamu pikir aku anak kecil yang nggak bisa jaga diriku sendiri?"
Velicia yang sengaja menekan Galasena memilih pergi dari hadapan Galasena. Sedangkan laki-laki itu mengusap wajahnya kasar.
Dia berbalik dan mengejar Velicia, meraih tangannya lalu membawanya duduk di atas ranjang.
Galasena memaksa Velicia duduk di pangkuannya.
"Ngapain sih? Aku bisa duduk sendiri. Dan lagi kamu ngapain balik? Bukannya mau ketemu klien kamu?"
Galasena merengkuh pinggang Velicia lalu memeluknya erat.
"Nggak, aku nggak ke kantor hari ini. Aku mau pergi urusa orang yang udah kasih obat perangsang kemarin."
Akhirnya Galasena memilih untuk jujur. Anak buahnya sudah menemukan orangnya.
Pelakunya adalah saudara tirinya yang menyuruh seseorang agar menjebak Galasena.
"Siapa?"
"Kamu nggak perlu tahu," jawab Galasena.
Bugh....
Velicia yang kesal langsung memukul bahu Galasena yang membuat laki-laki itu meringis kesakitan.
"Aku juga korbannya. Siapa yang jebak kamu? Kasih tahu aku, biar aku kasih pelajaran."
Galasena terkekeh melihat wajah kesal Velicia.
"Ngapain malah tertawa?"
"Kamu lucu."
Velicia melengos, dia menggit bibir bawahnya karena menahan kesal dan ingin mengoceh panjang lebar pada Galasena.
Velicia sejenak lupa ingin menghubungi Daddy nya.
Galasena berhenti tertawa lalu dia meraih dagu Velicia. Membawanya ke dalam ciuman yang panas melanjutkan hal yang tertunda di kamar mandi.
Velicia kalah dengan keinginan tubuhnya sendiri. Dia mengalungkan kedua tangannya di leher Galasena yang membuat ciuman itu berlangsung dari dua sisi.
Tangan Galasena yang terbebas mengusap lembut punggung Velicia.
Sementara bibir mereka saling menikmati satu sama lainnya.
Tangan Galasena merayap ke depan mencari benda kenyal yang membuatnya gila pada Velicia. Mengusap lalu menarik pelan benda mungil yang ada sudah terlihat tegang itu.
"Eungh ......."
Lenguhan terdengar di sela ciuman mereka. Perlahan bibir Galasena merambat ke leher Velicia.
Saat dia ingin membuat jejak miliknya, mata Velicia langsung membuka sempurna.
Dia mendorong pelan tubuh Galasena.
"Jangan di tambah, yang kemarin belum hilang."
Galasena tersenyum kemudian mengangguk.
"Aku nggak akan tambahi," sahut Galasena.
Suaranya serak dan berat. Lalu detik berikutnya tubuh Velicia sudah berpindah ke atas ranjang di mana Galasena mengungkung tubuh Velicia.
Perlahan tangan nya membuka penutup terakhir tubuh Velicia sehingga muncul dua benda kenyal itu.
Mereka melakukan nya di siang hari karena Galasena tak tahan saat melihat tubuh Velicia.
"Ahhh.... Gala.....kamu ngapain di bawah?"
Suara Velicia yang tersengal dan serak membuat Galasena menyeringai.
Dan detik berikutnya hanya desahan dan pekikan tertahan dari Velicia karena ulah Galasena.
#
Sementara itu, di sebuah gudang.
Satu orang terikat dengan kondisi yang sudah babak belur. Orang itu tak bisa melawan karena semua anak buah Galasena langsung menggerebek nya.
"Tolong, lepaskan aku!" pinyana lirih.
Namun anak buah Galasena tak menggubris nya.
"Diamlah, jangan banyak bicara!"
"Tolong, ampuni aku. Mereka yang menyuruhku menjebak Tuan Muda Galasena. Tapi Tuan muda berhasil kabur kan? Jadi aku rasa semua ini tak ada artinya kalian melakukan ini kepadaku."
Bugh bugh
"Argh ....."
Dua pukulan melayang di wajah orang itu yang menganggap apa yang dia lakukan tak ada efeknya.
"Diam atau lidahmu aku potong!"
To be continued