01
Happy Reading!
"Kau yakin mau berhenti kuliah?" tanya Maura setelah pak Muji keluar dari kelas.
Eva mengangguk."Ya mau gimana lagi? Aku harus bekerja untuk pengobatan mama. Apalagi biaya kuliah kan juga besar, mana sanggup."
"Ck!" decak Maura kesal."Sebenarnya aku mau membantu, tapi di rumah juga lagi ada masalah." keluhnya. Situasinya tidak memungkinkan untuk meminta uang lebih.
"Orang kaya juga punya masalah ya."gumam Eva membuat Maura mengangguk lemas.
"Justru masalah orang kaya lebih ribet. Salah sedikit nyawa taruhannya." ucap Maura lalu memasukkan barang-barangnya ke dalam tas.
"Hah?"kaget Eva."Memang masalah apa?"
Maura langsung menghela napas lalu menatap sahabatnya itu."Biasa, masalah om Gigah."
"Om Gigah kambuh lagi ya?"tanya Eva. Sedikit banyak ia sudah tahu tentang om nya Maura yang kena gangguan jiwa karena ditinggal istri.
"Iya, kambuh lagi. Makanya di rumah lagi ribet jagain om Gigah yang kadang ngamuk bahkan sampai mau bunuh diri." adu Maura. Sudah beberapa hari ini keluarganya tidak ada yang bisa tidur nyenyak. Takut om Gigah khilaf dan bunuh diri.
Eva menggeleng prihatin. Kasihan sekali, pikirnya. Tapi meski kasihan ia juga tak bisa membantu. Masalahnya saja tidak bisa ia selesaikan apalagi masalah orang lain.
"Padahal om Gigah kan ganteng ya, berpendidikan tinggi, kaya raya pula. Harusnya kalau ditinggal istri ya bisa nikah lagi bukannya malah ehm---jadi gitu." ucap Eva tak enak menyebut kata gila, karena itu terlalu kasar. Takutnya Maura malah tersinggung.
Maura mengangguk."Dasar om Gigahnya aja yang kecintaan."
"Apa jangan-jangan om Gigah diguna-guna?"tebak Eva asal.
"Nggak lah. Kita sudah tanya sama orang pintar, katanya enggak. Memang om Gigahnya aja yang bodoh, cinta kok sama orang yang salah." kesal Maura.
"Coba kenalin Om Gigah sama perempuan cantik, siapa tahu nyantol di hati." usul Eva. Biasanya kan kalau masalahnya karena perempuan, obatnya juga perempuan.
"Itu juga sudah. Om Gigah malah ngamuk mau nyekik tu cewe sampai kita satu keluarga susah misahinnya."ucap Maura membuat Eva langsung merinding.
"Seram juga ya."gumam Eva.
"Iya. Makanya---"Maura langsung berhenti bicara karena ponselnya berdering. Ia langsung menjawab panggilan dari mamanya itu.
"..."
"Hah? Iya.. Iya.. Maura pulang sekarang." sahut Maura panik lalu segera berdiri.
"Kenapa?"tanya Eva ikut panik.
"Om Gigah katanya ngamuk lagi. Aku harus pulang sekarang."ucap Maura lalu segera berlari keluar dari kelas.
"Terus aku gimana?"tanya Eva ikut mengejar.
"Ya terpaksa ikut aku dulu pulang ke rumah. Soalnya kata mama om Gigah pegang pisau."
Eva langsung melotot lalu mengangguk, ini namanya risiko numpang mobil teman.
Maura benar-benar melajukan mobilnya dengan cepat menuju rumah. Eva yang tidak tahu apa-apa juga ikut cemas. Sebenarnya separah apa sih om Gigah sampai Maura sepanik ini.
Begitu tiba di rumah besar dengan cat putih, Maura langsung keluar dari mobil dan Eva juga ikut.
"Tunggu di sini dulu ya, nanti kalau om Gigah sudah tenang baru aku anter pulang."ucap Maura yang langsung lari masuk ke dalam rumah.
Sedang Eva hanya bisa mengangguk dan memilih duduk di kursi yang ada di dekat taman. Tapi setelah tiga puluh menit kok Maura tidak keluar juga. Malah ada pria dengan jas putih masuk ke dalam rumah dengan tergesa. Sepertinya itu dokter keluarga.
"Apa ada yang terluka?"gumam Eva penasaran lalu memilih untuk memeriksanya. Harusnya Maura tidak akan marah kan kalau ia masuk dan melihat dari jauh.
Eva melangkah memasuki rumah dengan langkah pelan. Ia mendekat menuju asal suara ribut yang terdengar jelas bahkan dari tempatnya berdiri. Sepertinya om Gigah mengamuk sampai terluka dan anggota keluarga mencoba untuk menenangkannya.
Begitu mendekat ternyata Maura melihat ke arahnya membuat Eva meringis tak enak. Niatnya kan hanya mau mengintip dari jauh tapi malah kelihatan.
"Kenapa masuk?"tanya Maura mendekat.
"Maaf, aku penasaran dengan keadaan om Gigah."sahut Eva pelan. Selama ini ia hanya dengar cerita dari Maura, Eva tidak pernah memihat om Gigah secara langsung. Hanya fotonya saja di ponsel Maura dan saat melihat aslinya malah lebih tampan. Tapi sayang malah harus menjadi seperti itu.
Maura mengangguk."Tapi janji jangan ceritakan dengan siapa-siapa ya."
"Iya, aman. Tapi apa om Gigah terluka?"tanya Eva.
"Iya. Makanya itu mau diobati tapi om Gigahnya tidak mau."sahut Maura tanpa sadar bahwa ada seseorang yang mendekat ke arah mereka.
Anggota keluarga lain berpikir Gigah mendekat karena ingin melukai Maura karena itu mereka berteriak. Namun saat Maura sadar bahwa om Gigah berada di belakangnya, itu sudah terlambat. Ia hanya bisa menutup mata dan menunggu pukulan atau apapun itu tapi yang terdengar malah suara jeritan Eva.
Maura melotot bahkan semua orang yang melihat itu ikut kaget. Karena Gigah tiba-tiba saja memeluk seorang gadis dan itu adalah Eva.
"Maura, tolongin!"pinta Eva ketakutan. Ia memang tidak dipukul atau diancam akan dibunuh, hanya dipeluk tapi tetap saja menakutkan karena pelakunya adalah om Gigah.
"O-om Gigah?"kaget Maura dan lebih kaget lagi saat pria besar itu bukan hanya memeluk sahabatnya tapi juga menciumnya.
Semua anggota keluarga juga ikut tegang dan Eva? Ia langsung lemas dan pingsan. Walau bagaimanapun itu adalah ciuman pertamanya dan yang melakukannya adalah om Gigah.
Bersambung