Langit kota sudah sempurna gelap. Malam merayap pelan. Hujan tadi sore sudah mulai mereda, menyisakan gerimis yang awet. Arini menebak, itu akan berlangsung sampai besok pagi. Alat pengering rambut itu dilepas Arini. Ia menguncir rendah rambut hitam lurusnya. Sweter rajut berwarna cokelat tua ia pilih untuk dikenakan malam ini, cukup hangat untuk melindungi tubuhnya dari serangan angin malam yang dingin. Selesai bersiap-siap, Arini keluar dari paviliun. Lampu taman belakang sudah dinyalakan. Restu sengaja menyalakan lampu-lampu tersebut sejak sore tadi, sebelum gelap jatuh. Di bawah payung hitam pemberian Restu, Arini menyusuri jalanan bebatuan, menikmati pantulan dirinya di setiap genangan kecil di tanah yang ia lewati. Sesampainya di dalam rumah, Arini mendapati dapur sudah terang

