Lama terdiam, akhirnya Arini mengiyakan ajakan Adrian. Sebenarnya, banyak sekali pertimbangan sebelum menerima tawaran itu. Selain karena ia tidak membawa ponsel, juga karena cuaca hujan seperti ini yang memungkinkan ia terjebak sampai malam di sini. “Oke. Let’s go, Arin.” Pria tersebut terlihat begitu antusias. Bahkan, ia tanpa sadar menggenggam tangan Arini lalu membukakan pintu mobil untuk perempuan tersebut masuk. “Makasih, Mas. Harusnya Mas Adrian nggak perlu repot-repot.” Arini berbicara ketika pria tersebut masuk mobil dan duduk di kursi kemudi. Dua sudut bibir Arini tersenyum ringkas dan mulai menyalakan mesin mobilnya. “Saya tidak merasa repot sama sekali, Arin.” Perempuan tersebut lantas hanya menanggapinya dengan senyuman. Sore ini, di bawah guyuran hujan, Arini diantar

