Permintaan Arka membuat Arini-menerka-nerka. Tapi, satu hal yang pasti, pria tersebut tidak akan berhenti membuatnya tertekan. Untuk saat ini, embusan napas lega menguar dari rongga pernapasannya kala aroma maskulin itu tidak lagi memenuhi ruangan laundry. Arka telah pergi meninggalkannya sendiri. “Arini.” Panggilan suara lembut itu diiringi suara derit pintu yang terbuka. Arini terkejut, kemeja di tangannya yang sudah bolong itu terjatuh. “M-maaf, Mba.” Ia langsung memungut baju tersebut. Melihat reaksi Arini yang seperti baru saja bertemu hantu, tidak ayal kening Anita berkerut bingung. “Kamu kenapa seperti ketakutan gitu, Arini? Mba nggak marahin kamu padahal.” Mengangguk, Arini membenarkan. Kemeja yang telah rusak itu kini ditaruhnya di keranjang. Anita memang tidak memarahinya

