[“Pinjem ke Tuan lagi, Rin. Tuan meskipun galak, dia itu royal banget. Kalau aja ayahmu nggak ngeyel buat makan jeroan, kondisinya nggak bakal drop.”] Pesan itu benar-benar menjadi beban yang menggantung di pikiran Arini. Watak ayahnya yang memang keras kepala membuatnya kadang kalang kabut untuk memikirkan kondisinya. Sudahlah komplikasi, pola makan pun tidak dijaga. Dan hal tersebut yang selalu mematik rasa berat di hati Arini. “Ya, Allah ... kenapa harus jadi berlipat-lipat gini ujiannya?” Gadis tersebut mengusap wajahnya frustrasi. Ingin rasanya menangis dan menjerit, tetapi seperti ada yang menahannya dari dalam. Tidak mungkin untuknya melakukan saran yang diberikan oleh Bude Darmi. Berhubungan dengan Arka sudah seperti mati dengan cara yang sengaja dan hina. Menyampingkan soa

