Arka meletakkan kembali hair dryer yang baru saja digunakan untuk mengeringkan rambut Arini. Ia menatap perempuan tersebut dari tempatnya berdiri. Penampilannya cantik, meski ada bekas luka di beberapa bagian tubuhnya. Namun, itu bukan masalah besar. Nyatanya Arini justru makin menarik dengan kondisi yang demikian. Pria tersebut mengambil sebuah kain panjang warna merah. Benda itu ia gunakan untuk menutupi kedua mata Arini hingga pandangannya terhalang secara sempurna. Arka mengikatnya di bagian belakang kepala Si Perempuan. Arini hanya diam. Mulutnya seperti sengaja dikunci. Bukan sengaja, melainkan ia sadar. Sadar bahwa sekuat apa pun perlawanan yang diberikan, tidak akan bisa meruntuhkan ego dan dendam Arka padanya. Pria itu tidak akan membiarkannya lepas. Arka sudah bicara beru

