Sepulang belanja, Arini langsung menata semua barang yang baru ia beli dari mall dan pasar. Tentu saja pekerjaannya lebih ringan karena ada Restu yang membantunya membawa semua barang tersebut.
Meskipun suasana sempat canggung karena Arini yang bingung ketika dimintai nomor telepon, tetapi hal itu tidak berlangsung lama setelah Restu mengalihkan topik pembicaraan.
Seperti biasa, ia melakukan banyak pekerjaan rumah secara teratur dan rapi. Sampai tidak terasa, waktu sudah menjelang malam.
Gadis tersebut masih berkutat dengan steak daging dan kentang gorengnya. Ia begitu lihai dalam mengolah berbagai menu masakan.
“Rin, kamu tolong bersihin ruang kerja Mas Arka, ya. Pokoknya ruangan itu harus udah bersih sebelum Mas Arka pulang.”
“Em, tapi, Mba, bukannya Tuan nggak suka kalau ada orang yang masuk ke ruang kerjanya, kecuali Mba?”
Anita mengangguk, tetapi kondisi badannya yang akhir-akhir ini gampang lelah dan sering mual membuatnya tidak bisa melakukan aktivitas banyak.
Apalagi tadi ia sempat melihat jika ruang kerja Arka sangat berantakan. Banyak kertas yang berceceran di lantai.
“Iya, tapi kamu aja yang bersihin. Inget, pokoknya sebelum Mas Arka pulang, kamu harus udah keluar dari ruang itu.”
Tidak bisa membantah, Arini akhirnya mengangguk, menyanggupi permintaan Anita. Ia melepas celemeknya karena baru saja selesai memasak untuk makan malam.
“Baik, Mba. Kalau gitu, Arin ke atas dulu.”
“Oke. Lakukan dengan cepat, Rin.”
“Arin usahain, Mba.”
Gadis tersebut langsung menuju ke ruang kerja Arka. Ruang yang didominasi warna abu itu terlihat berantakan, jauh dari keadaan saat terakhir kali ia berada di sana.
Satu per satu kertas ia susun di rak khusus. Buku bacaan pun ia tumpuk rapi di atas meja. Beberapa laci yang terbuka Arini tutup kembali.
Terakhir, ia mulai menyapu dan membersihkan ruang tersebut dari debu. Tanpa sadar, atensinya tertuju ke arah pojok ruang yang terdapat lemari kecil.
Langkah ringannya membawa Arini ke sana. Tangannya dengan berani membuka benda persegi berwarna cokelat tua yang tidak begitu terawat.
Sebuah foto, gelang, dan kotak parfum yang sudah kosong ia dapat di sana. Arini ingat betul barang-barang itu merupakan pemberiannya dahulu.
Tidak disangka, barang yang harganya tidak seberapa itu ternyata masih disimpan. Itu adalah hadiah anniversary hubungan mereka yang kesatu.
Arini membelinya dengan uang yang ia tabung selama setengah tahun dari hasilnya menitipkan kue buatannya di kantin.
“Apa tujuan kamu nyimpen semua ini, Mas? Bahkan, hadiah yang kamu beri ke aku aja udah nggak ada.”
Sedikit menyesal, Arini pernah menjual gelang pemberian Arka yang seharusnya bernilai puluhan juta dan hanya dibeli seharga tiga juta.
Saat itu kedaannya benar-benar chaos. Ia tidak bisa berpikir jernih saat ibunya butuh biaya perawatan dan kondisinya hanya mengantongi uang dua ratus ribu.
Gadis tersebut diam, seolah-olah apa yang ia rasakan saat ini hanya sebuah penyesalan. Hatinya bertanya-tanya, kenapa takdir sepelik ini harus ia jalani?
Bahagia seperti apa yang menantinya sampai diuji dengan masalah bertubi-tubi. Arini hanya mendesah, lagi-lagi ia merasa tidak ada gunanya untuk sekedar berharap.
“Siapa yang mengizinkan kamu masuk?”
Teguran dengan suara berat itu membuat Arini terkejut bukan main. Foto yang ia pegang secara refleks terlempar ke udara dan berhambur di lantai.
Sementara gelang benang dan botol parfum yang ia pegang terjatuh begitu saja. Arini menatap ke sosok pria yang kini berdiri di ambang pintu.
“Tu—Tuan ....”
“Kembalikan barang-barang itu ke tempat asal! Sekarang!”
Perintah itu terdengar menggelegar hingga menggema di ruangan. Hal tersebut membuat Arini gugup dan langsung mengemasinya dengan buru-buru.
Ia kembali menghadap ke arah tuannya yang masih berdiri di sana sambil menyaku tangannya di sisi celana.
Tidak lama, derap langkah yang berbobot terdengar mendekat. Arini yang masih dalam posisi berjongkok pun melihat sepatu pantofel yang mengilap.
Perlahan, Arini angkat kepalanya, mendongak ke arah Arka yang juga tengah menatapnya.
Tapi, jelas tatapan keduanya berbeda. Arini menahan takut dengan tangan gemetar, sementara Arka dengan mata elang yang tajam dan mengancam.
“Saya minta maaf, Tuan. Saya nggak ada niat bersikap lancang.”
Satu alis tebal milik pria itu terangkat. “Lalu? Apa yang kamu lakukan tadi itu bukan salah satu sikap seorang pencuri?”
Arini terenyak. Tajam sekali sindiran Arka. Masih dalam posisi mnunduk dan duduk berjongkok, ia mengatur napasnya.
“Saya hanya berniat membersihkan ruangan ini.”
“Siapa yang nyuruh?”
Gleg!
Salivanya sendiri seperti tersangkut di tenggorokan. Arini tidak bisa menjawab. Jika jujur, Anita yang pastinya akan terkena dampak dari kemarahan pria tersebut.
“Inisiatif saya sendiri, Tuan. Tadi saya nggak sengaja lewat dan lihat ruangan ini berantakan. Jadi, saya berniat membersihkannya supaya lebih bersih dan enak dipandang.”
Arka tidak merespons. Ia memperhatikan sekeliling. Ruangan itu lebih tertata dan bersih. Gara-gara lemburnya tadi malam, pria tersebut belum sempat merapikannya.
“Kamu lupa peraturan yang aku buat?”
Suasana hati Arini makin tidak karuan. Andai bukan mantan kekasihnya, mungkin ia tidak akan segugup ini saat melakukan kesalahan.
“Perlu aku jelaskan lagi?”
Arka kembali bertanya saat mendapati sikap Arini yang lagi-lagi membuatnya muak. Diam dan diam. Ia tidak suka dengan sikap si perempuan yang begini.
“Jawab!”
Sentakan itu membuat Arini beringsut. Ia tergagap dalam napasnya yang makin tersengal-sengal. Perempuan tersebut sadar jika sang tuan sudah mulai menampakkan emosinya.
“Saya paham, Tuan. Tapi saya hanya ingin berniat baik.”
“Diam dan akui kesalahanmu, Arin!”
Bagi Arka, salah tetaplah salah. Dan ia benci dengan orang yang keras kepala membela diri, padahal telah melakukan kesalahan.
“Iya, Tuan, saya salah dan saya minta maaf.”
Akhirnya Arini mengalah. Ia masih ingat sosok Arka yang memang malas beradu argumen dalam hal apa pun.
Ah, sial! Kenapa isi kepala Arini tidak berhasil menghapus jejak Arka secara menyeluruh? Puing-puing kenangan seperti menghantuinya.
Setiap saat, ketika berhadapan dengan Arka, memori otaknya secara otomatis memutar cerita lama yang romantis.
Walau kenyatannya, sekarang semua itu hanya serpihan yang sepantasnya dibuang. Arini tidak boleh berharap untuk kembali dengan pria tersebut.
“Aku nggak butuh maaf, Rin.”
Arini mendongak lagi. Ia memberanikan diri menatap wajah sang majikan yang tubuhnya perlahan turun.
Pria itu menyetarakan posisinya dengan Arini. Satu lututnya bertumpu di lantai, sementara satu lututnya menekuk tegak sebagai tumpuan tangan kirinya.
“Tolong, maaf kalau saya sudah lancang masuk ke sini.”
“Bisa saja aku maafkan, tapi ....” Kepala Arka mendekat ke wajah Arini. Bahkan, bibirnya pun makin menempel dengan bibir mungil perempuan tersebut. “Lakukan tugasmu nanti malam. Aku tunggu di kamar tamu jam sebelas.”
Seluruh tubuh Arini seperti mendapat aliran listrik. Ia hanya bisa membeku di tempat. Bahkan, jika saja tangan kokoh Arka tidak menahan lengannya, perempuan tersebut sudah terhuyung ke belakang.
“Kamu bukan orang yang ingkar, kan?”
Kembali mendapat intimidasi, Arini terpaksa mengangguk. Ia sudah berjanji menyerahkan diri sebagai jaminan utang.
“Baik.”
“Bagus. Datang dalam kondisi bersih dan pakai wewangian favoritku. Kamu masih ingat, ‘kan?”
Arini mengangguk lagi. Ia layaknya sebuah boneka yang terima saja dipermainkan oleh tuannya.
“Arin? Kamu di mana, Rin?”
Panggilan yang menginterupsi mengalihkan atensi keduanya. Arka mengambil posisi berdiri dan Arini pun bergegas dari ruang tersebut tanpa bicara sepatah kata pun.
Ia sedikit berlari ke sumber suara. Anita berada di ujung tangga, terlihat seperti sedang mencari-cari dirinya.
“Iya, Mba.”
Arini berseru. Ia menghadap kepada nyonya rumah tersebut dan berusaha bersikap biasa, seolah tidak mendapat tekanan dari siapa pun.
“Duh, kamu ke mana aja, sih? Itu mobil Mas Arka udah di depan. Kamu udah selesai bersihin ruangannya?”
“Udah, Mba.”
Terlihat jika wanita tersebut menghela napasnya lega sambil memegangi dadanya. Anita menoleh ke atas, suaminya itu masih menggunakan setelan jas dengan wajah kuyunya.
“Mas, kamu masuk lewat tangga belakang?”
“Iya, Nit. Saya mandi dulu sebentar.”
“Oke, Mas. Aku tunggu di ruang makan.”
Anita berbalik, menunggunya di meja makan sambil menikmati salad buah. Di lain sisi, Arini mulai menutup semua jendela dan pintu. Menarik tirai dan kelambu di tiap jendela.
“Arin, kamu juga belum makan malam, kan? Makan bareng sini.”
Arini tersenyum canggung. “Nanti aja, Mba. Nunggu semua kerjaan selesai.”
“Oh, iya, Mba lupa tanya sama kamu. Gimana tadi sama Restu? Kalian udah saling kenal, kan?”
Belum sampai menjawab, Arka sudah turun dari kamar. Pria itu hanya memakai kaus hitam lengan panjang dan celana kain warna senada.
“Arin ke belakang dulu, ya, Mba. Selamat menikmati makan malam.”
“Iya, Rin. Nanti kamu jangan lupa bawa makanan ke paviliun.”
“Iya, Mba. Makasih banyak.”
Anita mengangguk. “Sama-sama.” Ia lantas mengalihkan pandangannya kepada Arka. “Mas, kamu tau nggak? Ternyata yang sopir dan tukang kebun kita itu masing bujang. Kayaknya cocok, deh, sama Arin. Tadi juga mereka ke pasar bareng. Pas pulang akrab banget.”
***