Arka sempat menahan napas mendengar pemaparan Anita. Seharusnya, ia tidak peduli, tapi kenapa ada rasa marah saat mendengarnya?
Ia tidak rela, bahkan tidak terima jika Arini dekat dengan lelaki lain. Padahal, ia pun belum pernah lihat siapa lelaki itu.
Dan, ya, mau tidak mau, Arka mengakui jika masih ada sisa rasa kepada Arini, si Gadis yang ia anggap sebagai pengkhianat.
“Mas, kenapa kamu diem? Ada yang kamu pikirin?”
Menyadari sikap Arka yang menurutnya sedikit aneh, Anita akhirnya memberikan pertanyaan.
“Nggak. Kita lanjut makan.”
Arka memilih untuk menyembunyikan rapat-rapat perasaannya. Ia menekuri isi piringnya tanpa berminat membahas topik pembicaraan sang istri.
Jauh di lubuk hati yang terdalam, Arka pun merasa bersalah dengan Anita. Wanita itu terlampau baik untuk menjadi seorang istri.
Tapi, perasaan tidak bisa bohong. Arka tetap lebih dominan ke Arini. Sebesar apa pun usaha untuk melupakan, nyatanya rasa ingin memiliki tetap ada.
Maka ketika perasaan itu telah dikubur dalam, takdir seolah bertolak belakang dengan menghadirkan Arini kembali.
Hal itu dijadikan kesempatan oleh Arka untuk menekan gadis yang sudah membuatnya jatuh hati sekaligus tersakiti dalam waktu bersamaan.
“Besok jadwal kita periksa kandungan, Mas. Kamu bisa nemenin aku, kan?”
Anita mulai berbicara ketika makan malamnya telah selesai.
“Iya, besok saya antar. Tunggu sebentar.”
Arka bangkit. Ia menuju dapur untuk mengambil air putih hangat dan vitamin untuk Anita. Ia memberikannya kepada sang istri.
“Makasih banyak, Mas.”
“Anytime. Besok saya antar kamu buat periksa.”
Anita menggenggam tangan Arka, sebelum akhirnya adegan itu berakhir karena kehadiran Arini yang sudah bersiap mencuci peralatan makan yang kotor
“Eh, Rin, nanti begitu selesai, kamu langsung istirahat. Pastiin semua pintu udah dikunci.”
“Oh, iya, Mba.”
Arini menanggapinya santai. Ia melakukan apa yang biasa dilakukan sebelum tidur. Memastikan semua rumah dan jendela terkunci, kemudian membawa sisa makanan sesuai porsinya.
Perempuan tersebut masuk ke paviliun dan menikmati makanan malamnya. Namun, ada yang berbeda untuk kali ini.
Perasaannya tidak setenang tadi. Detak jam di dinding menambah kegelisahan yang ada di hatinya. Semuanya terasa mencekam dadanya.
Sebentar lagi. Hanya tinggal satu setengah jam dan ia akan menyerahkan diri. Arini seperti dihadapkan oleh kematian.
Bukan raganya yang dibunuh, melainkan harga diri. Hal yang selalu diwanti-wanti oleh ayahnya supaya dijaga dengan baik.
Mengingat itu, mendadak selera makan Arini hilang. Air mata jatuh ke meja usang tempatnya makan. Sakit. Hancur rasanya ketika harus mengorbankan diri demi uang.
“Maafin Arin kalau bakal kecewain Ayah.”
Arini menunduk dalam. Ia tergugu dalam tangisan. Sesekali gadis tersebut menyeka, tetapi sesak di d**a semakin mempermainkan perasaannya.
Beruntung ia diberi ruang untuk membangun privasinya sendiri. Namun, bukan berarti ia bebas begitu saja.
Ancaman Arka sungguh membuat hidupnya tidak tenang sama sekali. Ia hidup dalam ketakutan.
“Kenapa, Mas? Kenapa kamu nggak lepasin aku aja?”
Kembali, Arini bermonolog. Benar kata Arka, pria itu akan tetap jadi bayang-bayang Arini, kapan pun dan di mana pun.
Di tengah pikirannya yang larut dengan suasana kacau tersebut, ponsel yang tergeletak di samping piring itu menyala.
Layar ponselnya menampilkan notifikasi pesan yang masuk. Sebuah nomor tidak dikenal, membuat gadis tersebut mengernyit.
[“Ingat, jam sebelas malam.”]
Isi pesan itu cukup membuat Arini paham. Arka, pasti pria tersebut yang mengirim. Tapi, dari mana pria tersebut mendapatkan nomornya?
Arini membuang napasnya gusar. Ia simpan sisa makanan itu di lemari khusus, sebelum akhirnya pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Piama lengan panjang berbahan satin itu ia kenakan malam ini. Rambutnya yang basah ia sisir dengan rapi.
Gadis tersebut mematut dirinya di cermin. Wajah lelahnya terlihat, dengan lingkar mata hitam karena kurang tidur selama beberapa malam ini.
Ia menguap berkali-kali, sampai akhirnya berpindah ke atas ranjang. Setidaknya, masih ada waktu satu jam untuknya mengistirahatkan diri sejenak. Kondisinya benar-benar mengantuk.
Tidak lama, mata Arini tertutup. Ia tidur sangat lelap, bahkan sampai alarm ponsel yang sudah diatur jamnya berbunyi, tidak mampu mengusik istirahatnya.
Di lain sisi, Arka telah berada di kamar tamu. Jelas ia menunggu Arini untuk datang. Lewat sepuluh menit, pria tersebut masih tetap di sana.
Menit terus berlalu. Sampai akhirnya setengah jam sudah ia habiskan di sana hanya untuk menunggu. Pria tersebut mulai kesal. Terlebih ponsel Arini sekarang tidak aktif.
“Kamu sengaja mempermainkanku, Arin. Baiklah, biar aku tunjukkan cara bermain yang lebih dari ini!”
Arka keluar dari kamar itu. Pandangannya sejenak terarah ke lantai atas, di mana kamarnya berada. Anita tidak akan mungkin bangun karena ia telah memberinya obat tidur.
Sebesar itu niatnya untuk bermain dengan Arini, sampai-sampai mengorbankan istrinya yang sedang hamil.
Pria tersebut melangkah keluar rumah, berpindah memasuki paviliun dengan kunci cadangan yang dibawa.
Berhasil. Pintu paviliun itu terbuka. Ruang yang dahulu paling ia hindari kini justru menjadi tempat yang harus dikunjungi.
Suasananya memang rapi, bersih, dan wangi. Beda dengan saat ditinggali Darmi dahulu yang terkesan apa adanya.
Perlu diakui, Arini memang piawai dalam tata ruang. Tanpa sadar bibir pria tersebut tertarik membentuk senyuman simpul.
Menepikan kekagumannya terhadap ruang itu, Arka menajamkan pandangan ke arah kamar yang pintunya tertutup.
Ia mendekat, mendorong kenop pintu yang ternyata tidak dikunci. Alhasil, sekarang Arka bisa dengan gampangnya masuk.
Pemandangan pertama yang menyambut adalah sosok Arini yang meringkuk tanpa selimut yang menutupi.
Sialnya, otak Arka langsung merespons hebat saat melihat bagaimana lekuk tubuh sang gadis yang padahal memakai pakaian tertutup.
Kulit putih, bagian tertentu yang menonjol, juga ... aroma tubuh yang khas. Hal tersebut benar-benar membuatnya dibuai dengan rasa penasaran.
“Berani juga kamu membohongiku.”
Tanpa berpikir panjang, Arka langsung menaiki tempat tidur dan berbaring di sisi Arini. Ia tarik pinggang itu supaya masuk ke dalam pelukan.
“Eungghhh ....”
Lenguhan Arini yang terdengar manja justru membangunkan reaksi di salah satu tubuh Arka. Benar-benar sial. Kondisi ini membuatnya seperti cacing yang menggeliat kepanasan.
Pria tersebut lekas memberikan kecupan ringan di pipi, kemudian turun ke leher untuk menyesapnya dalam-dalam hingga meninggalkan noda merah di sana.
Arini yang merasa terusik pun akhirnya pelan-pelan tersadar. Jantungnya seperti berhenti berdetak saat itu juga.
Ia merasa ada sebuah tangan besar yang mengungkungnya dari belakang. Pun dengan deru napas memburu beserta wangi maskulin yang membuatnya sadar.
“Tu–Tuannn.”
Arka menghentikan aksinya. Ia tarik tubuh Arini supaya menghadapnya. Kini, kedua wajah itu saling berdekatan satu sama lain.
“Hm, masih mau membohongiku?”
Tatapan Arka yang tajam membuat Arini menunduk. Ia tidak menyangka jika tuannya bisa masuk ke sini.
“Maaf, s-saya ketiduran.”
“Mudah sekali kamu minta maaf atas semua kesalahan-kesalahan kamu.”
Arini kembali membisu. Ia tidak bisa berbicara banyak setelah bibirnya kembali dibungkam dengan bibir Arka yang sudah melumatnya.
Tangan pria tersebut memeluk Arini, menghapus jarak di antara dua tubuh yang berbaring dan saling berhadapan.
Arini memejamkan mata, tiap gerakan lidah Arka di dalam mulut, berusaha ia menikmati.
Entah bagaimana ceritanya, kini kancing piama gadis tersebut sudah sepenuhnya terbuka, menampilkan tanktop warna putih yang melekat di tubuh cantiknya.
“Kamu harus membayarnya malam ini, Rin.”
Tangan Arini berusaha mencegah pergerakan tangan Arka yang hendak mengekspos d a d anya. Ia menggeleng pelan.
“S-saya akan melakukannya dengan suka rela, tapi tolong ... pinjami saya yang seratus juta lagi, Tuan.”
Arka memperhatikan baik-baik mata Arini yang berbinar penuh harap. Ia selipkan sehelai rambut ke belakang telinga sang gadis.
“Kamu ingin memerasku?”
Arini menggeleng cepat. Demi apa pun, ia tidak berniat mempermainkan tuannya.
“Saya hanya butuh buat pengobatan Ayah dan Ibu.”
“I know, but ... kamu harus menjamin kepuasanku. Turuti imajinasiku saat bermain, Arin. Buktikan kalau kamu memang masih gadis. Apa kamu sanggup? Aku nggak akan cukup bermain hanya satu kali, apa pun keadaan kamu!”
***