Arini bergidik ketika mendengar ucapan itu. Deru napas panas Arka yang ia rasakan di wajah terasa menambah suasana tidak aman di kamarnya. Gadis tersebut bergerak, berusaha melepas pelukan itu dan menjauh saat merasa takut jika saja Arka bersungguh-sungguh menghabisinya malam ini. Lagi-lagi ia tidak siap untuk memenuhi janji. Sikap buruknya kali ini adalah ingkar. Dan itu tidak bisa ia hilangkan begitu saja meskipun sudah berusaha membangun tekad yang kuat. “Kamu mau alasan apa lagi, Rin? Atau ... kamu bisa balikin uang itu sekarang?” Jawabannya jelas tidak. Arini menggeleng lagi karena hanya itu yang bisa ia lakukan ketika mulutnya serasa dikunci. “Gunakan mulutmu untuk bicara!” Peringatan yang disertai dengan tatapan tajam itu tidak berhenti memperhatikan Arini yang kini duduk di

