Bab 34

1643 Kata

Arini menggenggam kain seprai lebih kuat, menyampirnya lebih kasar. “Udahlah, Mas. Jangan tanya-tanya lagi. Kita cuma teman, kan, Mas? Teman juga butuh privasi.” “Justru karena aku temenan sama kamu, makanya aku nanya, Arini," sanggah Restu. “Aku peduli sama setiap keadaan kamu.” Arini masih berdiri membelakangi. Tubuhnya kaku. Jemari yang tadi sibuk merapikan kain, kini gemetar halus. “Aku mungkin nggak terlalu kenal kamu, Arini. Tapi aku yakin, kamu bukan tipe orang yang mau dibikin kayak gitu.” Suaranya makin pelan, tapi jelas. “Apalagi sama sembarang orang.” Perempuan itu menunduk. Napasnya mulai berat, seperti menahan sesuatu yang mendesak keluar dari dalam d**a. Restu bangkit perlahan dari duduknya dan mendekat. Ia berdiri di sampingnya, tetapi tidak menyentuh. Hanya berdiri, c

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN