Anita tidak kehabisan akal untuk mencecar Arini. Tahu dirinya sedang didesak, Arini tetap kekeh memperlihatkan bagaimana ia tidak pernah gentar. “Nggak, Mba, silakan saja. Tapi Arin nggak yakin Dokter akan bilang ini lebih dari sekadar iritasi dan otot ketarik.” Anita diam sejenak. Ia kembali memperhatikan tubuh Arini yang menurutnya benar-benar janggal. “Kenapa kamu nggak minta salep atau izin istirahat saja, Arin? Kamu kerja ke Mba, bukan ke penjajahan yang akan memforsir kamu.” Tangan Anita kembali terjulur, hendak menyentuh luka keunguan di leher Arini. Kaki Arini pun melangkah mundur, gerakan spontannya setiap kali Anita berusaha menjangkau luka di lehernya. “Karena Arin merasa masih sanggup kerja, Mba. Dan Arin nggak mau bikin ribet keadaan Arin.” Arini mengangkat telunjuk ke

