Dering ponsel Arka kembali menginterupsi. Tanpa melihat siapa yang menelepon, kali ini Arka sudah bisa menebak siapa. Istrinya pasti kembali menelepon karena ia tidak kunjung bergerak untuk menjemput. “Aku mau jemput Anita pulang. Kamu jaga rumah, kunci paviliun juga. Jangan biarkan Restu masuk ke sini.” “Itu hak penuh untuk saya membiarkan siapa pun dekat dengan saya, Tuan.” Arini berbicara lugas, tanpa pertimbangan. Dan hal itu, nyatanya berhasil memancing emosi Arka kembali mendidih. Arka mendekat, mencengkeram dagu Arini begitu kuat. Perlawanan ia dapatkan dari Arini. Perempuan itu meminta dilepaskan. “Lepaskan, Tuan! Jangan berbuat macam-macam lagi!” pekiknya. “Saya juga punya hak untuk hidup.” “Kamu pikir aku akan melakukannya lagi? Nanti ... tunggu ketika badan kamu normal da

