Arka melangkah mundur, menyandarkan punggung pada kusen pintu kamar. Menikmati suara tangisan Arini seolah nyanyian merdu di telinganya. Pria itu masih enggan meminta maaf. Tentu saja selain dibalut ego, Arka juga merasa apa yang ia ambil dari Arini, adalah haknya dari perjanjian ia dengan Arka. “Anda jahat, Tuan! Anda bahkan pantas disebut b*****t k*****t!” Makian dari Arini kembali terdengar di sela isak tangisnya, tetapi kali ini reaksi Arka sedikit berbeda. Pria itu menarik kedua tangannya yang tenggelam di balik saki celana, menyilangnya di depan d**a seraya berdecap muak. “Ck, Arini, shut the f**k off! You disgust me!” Arka berbicara penuh penekanan. “Semakin kamu banyak bicara, semakin membuat kamu terlihat menjijikkan di hadapanku.” Arka menatap tubuh Arini yang masih memungg

