Hujan masih turun deras ketika suara kendaraan berhenti di depan rumah. Genangan air memantulkan cahaya lampu dari teras yang temaram. Arka membuka pintu dengan cemas, berdiri menanti di ambang setelah beberapa saat lalu mendapatkan pesan balasan dari temannya. Sebuah mobil putih mulai merapat, memasuki pekarangan rumah Arka. Seorang muncul dari balik payung hitam yang basah kuyup. Tampak bagaimana ia berusaha menghindari hujan dengan berlari kecil dari mobil ke teras. Jaketnya meneteskan air dan rambutnya sedikit berantakan karena angin malam. “Maaf, macetnya parah banget. Tadi sempat nyangkut di perempatan dekat pasar,” ucap pria itu sambil menurunkan masker medis yang sempat menutupi sebagian wajahnya. “Dan hujan ini nggak bersahabat sama sekali.” “Masuk dulu, Dok.” Arka buru-buru

