Pagi hari ... Arini membuka matanya perlahan. Rasa lengket membebat kedua kelopak mata. Samar-samar ia menyadari, di kamar itu kini hanya tersisa dirinya sendiri. Ranjang di sebelah telah kosong, Arka sudah pergi begitu saja setelah sehari penuh menuntutnya untuk melakukan kegiatan panas di kamar tamu itu. Tiap sudut ruang, bahkan menjadi memori mencekam yang harus Arini ingat. Dapur, kamar mandi, ruang tamu, bahkan meja makan pun menjadi objek Arka untuk menyalurkan keinginannya menyetubuhi Arini. Tangis Arini pecah begitu saja. Ia menangisi dirinya sendiri. Badannya terasa remuk redam, luka yang ia dapatkan dari pukulan Samira bahkan masih terasa nyeri dan membengkak. Tapi, hari kemarin, tanpa belas kasihan sedikit pun Arka memperlakukannya begitu kasar. Sentuhan demi sentuhan j

