Arini membulatkan mata. Mungkinkah ia membiarkan Restu ke tempat itu? Kehadiran lelaki itu bahkan bisa menjadi penyelamat. Belum sampai Arini menjawab, tangannya serasa nyeri ketika diremas oleh Arka. Tatapan pria itu menajam, seolah memberi ancaman melalui bahasa tubuh. “Nggak perlu, Mas. Aku lagi mau istirahat dan tidur sehari full.” Restu di seberang sana terdengar menghela napas. [“Tapi, kamu beneran baik-baik aja, Rin? Kok, kamu kayak lagi sama orang lain, ya?”] Harus Arini akui jika Restu memang memiliki firasat yang tajam. Dan itu pun yang membuatnya sering kali kesusahan untuk mencari alasan. “Nggak, kok. Aku cuma lagi dengerin radio.” Diam. Agaknya, Restu berusaha untuk membangun kepercayaan dengan berbagai jawaban yang diberikan Arini. [“Oh, gitu. Ya, udah, kamu istiraha

