“Kamu boleh memilih.” Arka menarik kembali ponselnya. Ia menyimpan ke dalam saku jasnya. Pria tersebut membiarkan keheningan menyelimuti di mobil. Arini terjerembap. Tubuhnya seketika lemas. Seluruh tenaga seperti dilucuti. Bagaimana mungkin kegiatan panas mereka di ruang kerja itu terekam? Dan, di tempat itu pula Arini berlagak layaknya penggoda. Ia sengaja menyentuh Arka. Memainkan bagian vital pria tersebut dengan mulut. Membelai setiap inci tubuhnya yang kekar. Jika itu tersebar, Arini akan rugi. Jelas di sana hanya wajahnya yang terlihat. Mungkin, Arka memang sudah merencanakan semuanya dari awal. Pria tersebut sengaja mengeset kameranya supaya hanya wajah Arini yang terlihat. “Kenapa Mas lakuin ini ke aku?” Pertanyaan itu terdengar untuk yang kesekian kali. Arka muak menden

