“Oh, itu ….” Restu bersandar pada body mobil. “Tadi Subuh perut Mba Anita kram, jadi dibawa ke Dokter, deh. Sedihnya, kandungan Mba Anita lemah, jadi butuh bedrest ekstra saja, Rin.” Arini ikut lesu mendengar berita kurang mengenakkan pagi ini. Ia lantas teringat dengan permintaan cutinya, padahal hari ini seharusnya perempuan tersebut berpamitan pada Anita. Akan tetapi, melihat kondisi Anita yang seperti sekarang, sangat tidak memungkinkan untuk Arini mengambil jatah cuti tahunannya. “Berapa lama Mba Anita harus bedrest, Mas?” Bahu Restu terangkat, ia tidak tahu. “Kurang tau aku, Rin. Tapi tadi aku dengar Tuan Arka telfon Nyonya Irna, katanya sekitar semingguan lebih, deh.” Arini mengangguk lesu. Harapan untuk bertemu ayah dan ibunya harus ia pendam sedikit lebih lama lagi. Mungkin

