Tapi, pikiran Arini seketika berubah. Langkah yang tadinya sampai pintu, kini mundur kembali. Mengingat kebaikan Anita dan kedua orang tuanya, menjadikan Arini tertimpa rasa bersalah kian besar. Pantaskah ia mengkhianati orang setulus Anita? Haruskah Arini mengakhiri semuanya sekarang? Memikirkan itu semua, kepala Arini terasa berat. Tubuhnya bersandar pada tembok dingin samping pintu. Tidak. Arini tidak mau melakukan hal kotor lagi dengan Arka. Ia hanya ingin menjalani perannya sebagai pembantu seperti pada umumnya. Sejenak, perempuan tersebut membuang napas. Ia hanya bisa memijit kepalanya yang pusing. Tubuhnya luruh hingga terduduk di atas lantai. Ponsel yang sedari tadi digenggam berdering, memecah keheningan. Ia tatap layar tersebut, menampilkan sebuah deretan pesan yang terus-

