Bab 172

2558 Kata

“Ma ....” Suara Arini memecah keheningan yang sempat tercipta. Perempuan itu membuka matanya sebentar. Tatapannya mengarah ke langit-langit kamar warna putih ruang rawat tersebut. Pandangannya masih terlihat kosong, seolah sedang berusaha memastikan bahwa semua yang dilihatnya saat ini bukan sekadar mimpi yang akan menghilang ketika ia kembali memejamkan mata. Irna yang sejak tadi duduk di sisi ranjang langsung berdiri. Air mata yang sempat mereda kembali memenuhi pelupuk matanya. Tangannya gemetar saat menggenggam jemari Arini yang kini mulai memberi respons kecil. “Rin ....” Panggilan itu terdengar lirih. Begitu juga dengan Raka yang segera mendekat dari sisi lain ranjang. Beda halnya dengan Arka yang berdiri mematung beberapa langkah dari tempat tidur, menatap Arini cukup lama unt

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN