D.a.da Arini naik-turun akibat napas yang tercekat di tenggorokan. Tenggorokannya terasa perih karena tekanan kuat yang sejak tadi mengimpit lehernya. Wajah perempuan itu sudah memucat. Bibirnya bergetar. Ia benar-benar berada dalam kondisi terdesak hingga tidak lagi memiliki pilihan selain mengatakan hal yang sebenarnya. “Iya. Ini ... anak Mas Arka.” Mendengar pengakuan tersebut, Samira melepaskan tangannya dari leher Arini. Dan begitu cekikan itu terlepas, Arini langsung menghirup udara sebanyak-banyaknya. Napasnya memburu. Dadanya terasa sakit karena kekurangan oksigen. Ia membungkuk sedikit sambil memegangi lehernya yang memerah. Untuk beberapa saat, perempuan itu hanya fokus mengatur napasnya yang kacau. Arini merasa benar-benar nyaris mati beberapa detik yang lalu karena tindakan

