Cepat, Arka membawa tubuhnya berdiri di depan Samira. Ia menghalangi wanita tersebut untuk dapat melihat siapa yang terbaring di ruang rawat inap yang dikunjungi. Nahasnya, apa yang Arka perbuat tidak berarti apa-apa. Walau hanya sebentar, Samira masih bisa mengenali siapa pasien yang berada di ruangan tersebut. Wanita paruh baya tersebut bersedekap d.a.da, tidak lupa disertai dengan tatapan jengkel. Kepala Samira menggeleng beberapa kali, seakan tidak menyangka dengan apa yang baru saja ia lihat. “Oh, jadi, kamu masih menyembunyikan dia, Arka?” Arka mengembuskan napas gusar. Ia mencoba menormalkan degup jantungnya yang tidak karuan semenjak beberapa detik lalu. Pria tersebut membalas tatapan sang mama dengan teduh, mencoba meminta pengertian. “Saya nggak sengaja ketemu saja, Ma.”

