Telinga Arka seakan menuli. Ia tidak mendengarkan permintaan Arini. Pria tersebut menarik korek api dari saku celananya. Benda kecil itu diputar di antara jemarinya beberapa saat sebelum ditekan. Bunyi gesekan menambah atmosfer tegang di dalam gudang yang sunyi. Sesaat kemudian, nyala api kecil muncul di ujung korek. Cahaya mungil itu memantul di kedua manik mata Arka. Pria tersebut menampilkan seringai sinisnya. Tatapannya berganti pada Angga dan kedua orang tuanya secara perlahan. Arini membeku. Tubuhnya yang sejak tadi gemetar terasa makin dingin. Napasnya memburu. Bau bensin yang memenuhi ruangan membuat kepalanya pusing dan makon berat. Namun, ketakutan yang menjalar di dadanya jauh lebih menyiksa dibanding aroma menyengat tersebut. Tidak. Ia tidak bisa membiarkan Angga dan kedua

