Arini memejamkan mata rapat. Bukan hanya karena pandangannya masih kabur, tapi juga karena ia tidak sanggup menatap Anita—wajah yang penuh kekhawatiran, yang menuntut jawaban yang bahkan ia sendiri belum siap mengakuinya. Di sampingnya, Anita tetap duduk. Tangan Arini masih digenggam erat, menjaganya dengan sepenuh hati. “Arin…” panggil Anita pelan, suaranya lebih lembut. “Mba tunggu. Mba nggak akan pergi sebelum kamu kasih Mba jawaban.” Nada itu mantap. Tidak goyah sedikit pun. Namun, Arini tetap diam. Bibirnya terkunci, dadanya naik turun pelan. Ia memilih bersembunyi dalam diam, seolah itu satu-satunya cara untuk bertahan. “Kamu lihat Mba, Rin.” Anita mengangkat dagu Arini dengan hati-hati, memaksanya menatap. Namun, Arini justru membuang pandangannya ke arah lain, menghindar lag

