Irna menatap ke arah Anita cukup lama. Putri sulungnya itu berdiri dengan bahu yang masih bergetar pelan. Jejak air mata di pipinya belum benar-benar mengering, sementara matanya tampak sembap karena terlalu banyak menangis. Melihat kondisi Anita saja sudah membuat hati Irna tidak tenang. Apalagi suasana di ruangan itu terasa begitu berat, seolah ada sesuatu yang jauh lebih besar sedang menunggu untuk diungkap. Perlahan, atensi Irna beralih ke arah Arini. Putri bungsunya berdiri tidak jauh dari sana dengan wajah pucat. Kedua tangannya saling menggenggam erat di depan tubuh, seolah sedang berusaha menahan gemetar yang tidak mampu ia sembunyikan. Ada ketakutan, rasa bersalah, dan kecemasan yang bercampur menjadi satu di wajah perempuan itu. “Rin?” Irna memanggil dengan suara yang jauh l

