Arini terdiam. Untuk kesekian kalinya, ia menyerah—membiarkan Arka memagut bibirnya dengan lembut, seolah menguji rasa dari pulasan lipstik merah mudanya. Detak jantungnya meningkat. Tatapannya sempat melunak, goyah oleh perlakuan Arka yang perlahan merenggut kesadarannya. Ada kehangatan di mata pria itu—terasa jelas, terlalu dekat untuk diabaikan. Sesekali, decak halus di antara bibir mereka terdengar, mengisi keheningan pagi yang mendadak terasa in.tim. Saat napasnya mulai menipis, Arini mendorong da.da bidang Arka. Ciuman itu terputus. Arka hanya tersenyum puas, seolah menikmati reaksi yang ia dapatkan. “Kamu nakal, Arini. Berani-beraninya pakai warna itu.” Ibu jarinya menyentuh bibir bawah Arini, mengusapnya agak kasar, seakan ingin menghapus jejak yang tak ia suka. Arini menepis

