"Aku! Aku! Aku!" Cairo mengambil lipstik yang tergeletak di lantai dengan cepat, lalu membuka tutupnya dengan penuh semangat. Matanya berbinar sebelum ia mendekat dan tanpa ragu mencoret wajah Sastra. Sastra menghela napas, menatap papan permainan di hadapannya. Lemparan dadunya barusan ternyata membawa petaka, karena berhenti tepat di atas kepala ular. Itu berarti, ia harus merosot turun beberapa langkah ke belakang. Begitulah aturan main ular tangga yang diciptakan Nada. Siapa pun yang menyentuh kepala ular dan merosot turun, maka wajahnya akan dicoret oleh lipstik. Sungguh aneh, tetapi Sastra menikmatinya. Tidak hanya Sastra, tetapi kedua bocah itu pun tampak antusias dan selalu berharap bidak lawannya akan berhenti tepat di kepala ular. Karena jika begitu, maka mereka memiliki hak u

