“Urusanmu dengan bu Wirda sudah beres?” tanya Sastra sambil merentangkan satu tangan ke arah sofa panjang. Kemudian mempersilakan Nada duduk di sana. Sementara itu, Sastra duduk pada sofa tunggal yang membelakangi meja kerjanya. “Sudah, Pak.” Nada mengangguk, canggung. Andai pertemuan pertama mereka baik-baik saja, mungkin keadaanya tidak akan seperti sekarang. Bisa saja mereka menjadi “akrab”, dalam artian Sastra bisa bersikap lebih ramah seperti Adrian atau yang lainnya. “Saya barusan menghubungi ibumu dan bik Nining,” ujar Sastra tidak melepas tatapannya pada Nada. Yang sedikit membuatnya heran adalah, Nada juga tidak sungkan untuk melempar pandang padanya. Tatapan gadis itu terlihat tegas, meskipun ada sedikit gestur tidak nyaman yang tampak dari cara duduknya. “Bik Nining?” tany

