“Minggu depan, ada jadwal sidang,” ujar Anggi memberitahu di tengah makan malamnya bersama Nada. “Apa kamu bisa izin kerja?” Andai Anggi bisa berjalan, ia pasti tidak akan merepotkan putrinya. Nada baru saja mulai bekerja, tetapi kondisi Anggi membuat putrinya mau tidak mau harus ada di sisinya. Tanpa asisten rumah tangga, Anggi kini harus bergantung pada Nada dalam beberapa hal. Meski ia tidak ingin membebani putrinya, kenyataan membuatnya tidak punya banyak pilihan. “Hari apa?” tanya Nada sambil mengunyah ayam gorengnya. “Biar nanti aku bilang ke mbak Echa sama mas Sastra.” “Hari kamis.” “Oke!” Tatapan Nada seketika tertuju pada ponsel Anggi yang berdering di meja makan. Sebenarnya, meja yang digunakan untuk makan saat ini adalah meja yang biasa digunakan Nada untuk belajar di rumah

