“Kalau bukan karena Mama, aku nggak bakal mau diantar ke kampus!” Nada berseru ketika Sastra baru memarkirkan motor matic milik Nada. Untuk mengejar waktu yang sudah terlalu mepet, mau tidak mau Sastra akhirnya mengantar Nada menggunakan motor. “Harusnya, orang kalau habis ditolak itu pulang,” lanjut Nada berdiri di samping Sastra sambil melepas helmnya. “Bukan malah enak-enakan makan siang.” “Tapi masakanmu enak, cuma keasinan sedikit,” ujar Sastra sambil melepas helm yang dipakainya, lalu meletakkan di spion. Kemudian ia menerima helm yang disodorkan oleh Nada padanya. “Kalau asin, tambahin aer!” “Nada.” Sastra mencekal tangan gadis itu ketika hendak pergi meninggalkannya. “Aku tahu, kamu marah. Tap—” “Aku nggak marah, aku cuma kesel!” Nada menarik cepat tangannya lalu bersedekap.

