Aku baru saja tiba di rumah pria arogan itu, dan entah mengapa hatiku terasa begitu tenang setelah bertemu dengan adikku yang sudah lama aku rindukan. Namun, ketenanganku sekejap terganggu ketika aku mendengar suara Ardito.
"Dibayar berapa kamu oleh Alan?"
Aku terkejut, dan seketika rasa takut menyelinap dalam diriku. Apakah dia menuduhku melakukan sesuatu yang tidak pernah aku lakukan? Aku menatapnya bingung, tidak bisa percaya dengan tuduhan itu.
"Apa maksud kamu, Ardito?" aku berusaha tetap tenang meskipun hatiku bergejolak.
"JAWAB PERTANYAANKU, AMIRA!" Ardito membentak, nada suaranya semakin tinggi.
Aku menggelengkan kepala, mencoba menenangkan diriku. Aku tidak pernah melakukan apapun dengan Alan, bahkan kami tidak pernah bertemu. Kenapa Ardito menuduhku seperti itu?
"Aku tidak pernah melakukan apapun, apa maksud kamu berbicara tentang dia?"" aku berkata pelan, berusaha menghindari konfrontasi lebih lanjut, tetapi Ardito dengan cepat mencekal tanganku.
"Kamu tidak mau jujur rupanya." Dengan kasar, dia mendorong tubuhku hingga terjepit di tembok, membuatku tidak bisa bergerak.
Aku berusaha untuk melepaskan diri, tapi percuma. Tanganku dicekal begitu keras. Aku bisa merasakan kemarahan yang memancar dari wajahnya yang merah padam. Matanya tajam, penuh kebencian.
Dia mendekatkan wajahnya ke wajahku, dan aku dengan cepat memalingkan kepala, tidak ingin ada kedekatan lebih lanjut. "Kamu bekerja sama dengan mereka untuk menjatuhkan perusahaan?" tanyanya, suaranya penuh dengan kebencian.
Aku menatapnya dengan tatapan tajam, merasa sangat sakit karena tuduhan ini. "Aku tidak melakukan apapun pada perusahaan itu. Kenapa kamu bisa menuduhku seperti itu?" jawabku dengan suara yang bergetar.
Namun, tatapan sinis di wajahnya semakin tajam. "Ada saksi yang melihatmu keluar dari kantor malam itu. Kamu habis mencuri data perusahaan kan?" Ardito menambahkannya dengan suara penuh keyakinan.
Aku terkejut. "Aku tidak pernah pulang malam, kecuali pada malam itu... karena kita habis bermain, Ardito," jawabku dengan terbata, mengingatkan dirinya tentang malam itu.
Tapi Ardito tetap bersikeras dengan tuduhannya. "Habis itu kamu mencuri data perusahaan, kan? Dasar wanita licik!" katanya, penuh kebencian.
Aku hampir menangis mendengar kata-katanya. Aku tidak pernah melakukan apapun yang dia tuduhkan. "Aku tidak melakukan apapun juga, Ardito. Lepaskan tanganku sekarang!" teriakku, mencoba untuk membebaskan diriku dari cengkeramannya.
"Tidak ada yang bisa dipercaya dari wanita licik sepertimu!" katanya, seolah semua yang aku katakan tak berarti.
Hatiku sakit mendengar itu. Aku melakukan semuanya untuk keluarganya, untuk adiknya, untuk semua yang mereka perlukan. Aku ingin perusahaan ini maju, bukan hancur. "Aku tidak pernah berniat menjatuhkan perusahaan ini. Aku hanya ingin membantu," aku menjelaskan dengan suara yang rendah dan penuh keputusasaan.
Ardito hanya mencibir dan menatapku dengan jijik. "Omong kosong! Mengaku saja sekarang, Amara! Kalau kamu mengaku, mungkin aku akan membebaskanmu."
Aku menggelengkan kepala, tak tahu harus berkata apa lagi. Aku tidak tahu siapa yang sebenarnya mengkhianati perusahaan ini, tapi aku pasti bukan orangnya. Ardito kemudian membawaku masuk ke kamarnya dengan paksa, dan aku tak bisa berbuat banyak. Tenagaku sudah terkuras habis.
"Diam dan layani aku!" katanya, tanpa belas kasihan.
Aku terjatuh ke lantai yang dingin, merasa lelah dan patah hati. Aku hanya bisa terdiam, pasrah dengan apa yang sedang terjadi. Tidak ada lagi yang bisa kulakukan. Ardito sudah begitu marah dan membenciku. Apa yang akan terjadi padaku selanjutnya? Aku tidak tahu.
Ardito mendorongku hingga jatuh pada lantai yang begitu sangat dingin. Dia tidak perduli kalau saat ini Aku sedang merasa kesakitan akibat ulahnya. Dia tidak memperdulikannya sama sekali.
Aku hanya bisa pasrah dengan apa yang dilakukan oleh Ardito saat ini pada dirinya. Bukannya dia tidak mau melawan. tapi, rasanya begitu sangat lelah saat dirinya tidak bisa melakukan apapun juga. tenaganya sudah terkuras habis tadi. Dan sekarang Ardito menyuruhnya untuk melayaninya seperti wanita penghangat ranjang.
"Lepaskan aku!"
"Kamu pikir aku akan melepaskan kamu sekarang hah. Wanita licik."
Aku merasa kesal dengan Dito yang malah menyentuh diriku dengan paksa. Bahkan aku tidak tahu harus berbuat apalagi setelah ini.
"Lepaskan."
"Jangan harap."
Dito malah mendekatkan wajahnya padaku, memberikan sebuah kecupan manis pada bibirku dengan sedikit paksaan. Aku ingin sekali marah padanya. Tetapi aku masih bisa menahan dia.
Aku berusaha untuk berotak, bahkan tidak yakin kalau akan jadi seperti ini. Dito memang laki-laki yang menyebalkan.
"Ardito!" marahku sambil memanggul
Ardito tersenyum sinis ketika melihat kearah diriku. Membuka sehelai baju yang digunakannya hingga membuanganya entah kemana. Kalian semuanya sudah tau apa yang dilakukan Ardito selanjutnya padaku.
Sampai laki-laki itu malah membuatku merasa kesal. "Ardito."
Dia melepaskan baju yang digunakan dan lemparkan dengan sembarang. Menatap kearah diriku dengan sinis, bahkan aku sendiri pun tidak tahu alasan dia yang sebenarnya.
"Menyebalkan sekali!" umpatnya dengan kesal.
Bahkan sekarang aku bisa merasakan tubuhnya yang kini sudah menindih tubuhku, sialan laki-laki itu. Dia memang orang yang menyebalkan.
"Kamu tidak bisa mengelak lagi, tubuhmu berkata lain," kata Ardito yang kini menatap kearah diriku dengan pandangan yang sulit diartikan.
Bahkan tangannya kini tengah bermain di bawah sana dengan memainkan kedua jarinya. Aku berusaha untuk menahan tangannya untuk tidak bergerak.
Tetapi sial, tubuhku malah mengkhianati, bahkan aku malah terlihat menikmati gerakan demi gerakan yang diberikan oleh Ardito. Laki-laki sialan itu membuat aku merasa murka dan kesal.
Sedangkan Dito malah tersenyum menyeringai sambil melihat kearah diriku. "Mengaku saja, kalau kamu ingin disentuh olehku bukan."
"Aku tidak mau!" tolakku sambil memalingkan wajah.
Tetapi Ardito malah semakin mempercepat gerakan jarinya membuat aku tidak tahan dengan sentuhan itu. Tanpa sadar kini mulutku sudah mulai mengeluarkan suara yang sedikit gak menjijikan.
"Dit...oahh."
Sialan, suara menjijikan itu malah keluar dari mulutku sekarang. Bahkan aku tidak yakin kalau semuanya jadi seperti ini.
"Ahh Dito."
Tanpa sadar aku malah menuju kearah klimaks, terlebih setelah Ardito yang memainkan k******s milikku yang membuat aku tidak bisa berhenti berteriak.
"Kamu lihat ini, Amira. Kamu sudah basah sekarang," kata Dito yang kini memperlihatkan jarinya yang basah karena sebuah cairan kental.
Aku merasa malu, Ardito sedikit menyebalkan, membuat aku tidak tahan dengan semuanya. Bisa-bisanya dia malah menertawakan aku seperti ini.
"Berengsek kamu!" ujarku kesal. Tetapi Ardito kini sudah mulai membuka kakiku dengan lebar.
"ARDITO!" aku berteriak dengan kencang ketika dia yang malah mulai melakukan sesuatu padaku.
"Tenanglah, aku akan membuat kamu merasa nikmat." Ardito hanya mengatakan itu dengan seringai devilnya yang membuat aku sedikit kesal. Terlebih aku tahu apa yang akan terjadi dengan kita berdua.
"Ar...ah..."
Bahkan aku bisa merasakan sesuatu yang kini sudah mulai menerobos masuk ke dalam, rasanya memang sedikit aneh.
"Bersenang-senanglah."
BERSAMBUNG