bc

Gairah Suami Aroganku

book_age18+
74
IKUTI
1K
BACA
arranged marriage
badboy
heir/heiress
drama
sweet
bxg
lighthearted
city
office/work place
secrets
like
intro-logo
Uraian

Amira yang biasanya hidup dengan tenang, sekarang kehidupan dia penuh dengan tekanan. Semuanya karena kehadiran seorang Dito dari kehidupan dirinya.

Dito bukan hanya seorang bos di perusahaan tempat Amira bekerja. Tetapi laki-laki angkuh dan arogan itu juga adalah suaminya.

"Kerjaan ini semuanya!"

"Pak Dito gak bisa gitu dong, itu bukan pekerjaan saya!"

"Saya tidak terima penolakan!"

Dito sengaja mengerjai Amira dan menyuruh dia melalukan sesuatu agar wanita itu tidak suka dengan dirinya dan meminta cerai padanya. Apakah Dito berhasil menyiksa Amira?

"Pak Dito. Saya itu istri Bapak loh!"

"Saya gak peduli!"

"Awas saja minta jatah, gak akan saya kasih!"

Bagaimana hubungan Amira dengan Dito selanjutnya? Apakah Amira bisa bertahan dengan bos angkuhnya itu?

chap-preview
Pratinjau gratis
Bab 1 Bos Arogan
Semuanya berawal dari perjodohan yang dilakukan oleh Pak Luky Alamsyah. Salah satu bosku di kantor. Aku sangat menghargai dirinya karena aku sudah dianggap anaknya sendiri. Tetapi semuanya berubah setelah dijodohkan dengan Dito Alamsyah. Anak dari Pak Luky Alamsyah. Suara dobrakan di meja itu mengejutkanku dengan apa yang sudah terjadi, aku melihat kearah orang yang mendobrak mejaku ini. "Kenapa Pak Dito?" tanyaku padanya. "Saya disini adalah bos kamu, bicarakanlah lebih sopan!" Dia pikir dia siapa biasa seenaknya berbicara kepadaku seperti itu, dia bos karena hanya memimpin perusahaan saja, perusahan itu tetap milik Pak Luky yang baik hati. "Maaf Pak," kataku dengan nada yang dibuat sopan, aku begitu karena terpaksa. Aku tidak mau membuat kekacauan yang nantinya malah membaut aku dipecat di perusahaan ini. Dia tersenyum meremehkan yang minta maaf padanya. sial awas saja laki-laki itu, aku akan membuatnya pelajaran nanti. Sangat menyebalkan sekali. "Kerjakan ini dengan benar!" Setelah mengucapkan itu dia pergi meninggalkanku begitu saja. Seenaknya saja dia menyuruhku seperti ini. "Di marahin Pak Bos lagi yah," bisik seseorang yang ada di sampingku saat ini. Aku hanya diam sambil mendengus kesal, tidak tahu harus berbuat apalagi setelah ini. Rasanya dingin aku getok pake palu tuh bos baru. "Kamu menguping?" Aku melihat kearah dirinya sambil melotot, rupanya dia menguping pembicaraanku dengan bosku yang menyebalkan dan juga sangat arogan itu. Aku melihat kearah orang yang menguping itu. "Aku bisa mendengarnya." "Hahaha kamu lucu sekali Amira," eh dia malah menertawakan aku, dia pikir ini sangat lucu apa. "Kenapa malah tertawa Gita?" mataku mantapnya dengan pandangan yang sangat kesal. "Dia suamimu Amira," ucapnya menahan tawanya dengan puas. Ingatkan aku, jika laki-laki arogan itu adalah suamiku. Rasanya sulit sekali untuk dipercaya. Tapi memang itu kenyataannya. Dan aku sangat benci karena mendengar sebuah kenyataan ini. "Suami yang tidak pernah menganggapku sebagai istrinya, dia tidak pantas disebut suami," kataku dengan ketus lalu melihat setumpuk kertas yang sangat banyak yang diberikannya tadi padaku. Aku yakin ini bukan tugas yang sesungguhnya tapi, dia dengan sengaja menyerahkan semuanya padaku karena ingin membuatku susah. "Astaga, sepertinya dia sayang padamu. Makanya memberikan berkas banyak sekali seperti ini," kata Gita. Aku melotot tajam, konsep dari mana itu? Berkas sebanyak ini disebut rasa sayangnya padaku? Yang benar saja seperti itu. "Tidak yah. Aku benci sikap angkuh dari suamiku." "Hubungan kamu dengan dia gimana?" Tanya Gita yang sangat kepo ini. Untung dia tamanku disini jadi aku bisa menceritakan semuanya pada wanita itu. "Hubunganku dengan dia seperti biasa, kami bagaikan orang asing dalam satu rumah, dia sibuk kerja dan aku sibuk kerja," kataku menjelaskan kepada Gita. Dia terlihat begitu bingung, namun kemudian dia tersenyum dan kembali bertanya. Dia orang yang sangat kepo bukan. Tapi aku bukan orang yang selalu menyembunyikan rahasia jadi aku akan menceritakan semuanya pada Cita. "Kalian seperti orang asing, terus apa kalian tinggal satu kamar?" "Tidak, aku tidak akan pernah mau tidur dengan laki-laki angkuh itu. Aku menerimanya karena permintaan Pak Luky, kalau bukan karena beliau yang berjasa kepadaku aku tidak mau menerima laki-laki angkuh itu," Yah awal pernikahanku dengan si angkuh itu, karena Pak Luky struk dan dia memintaku untuk menikah dengan laki-laki Arogan itu. Kami sama-sama tidak saling mencintai dan laki-laki itu malah menuduhku, menikah dengan laki-laki karena harta. Aku masih punya uang untuk membuat usaha baru. Namun, karena Pak Luky yang memintaku untuk bekerja di perusahaannya jadi aku menuruti saja permintaanya. "Sudah aku tidak ingin membebaskan laki-laki itu, aku ingin merasa tenang sekarang," kataku yang ingin fokus mengerjakan setumpuk berkas ini yang sangat banyak. "Baiklah, sepertinya sekarang sudah waktunya makan siang. Apa kamu mau menitip makan?" tanya Gita dengan sopan padaku. "Kamu belikan saja apa yang aku suka." Gita sudah sering membelikan aku makan, jadi dia sudah tahu makanan yang aku suka. Setidaknya sekarang aku bisa mengetahui semuanya dengan baik. "Yaudah kalau begitu aku keluar dulu," ucap Gita lalu melenggang pergi meninggalkan tempat ini. Aku terpaku dengan berkasku dan tiba-tiba aku mendengar suara yang berbisik-bisik membicarakanku. Kenapa lagi dengan orang-orang yang ada di sini? "Kasain benget yah dia yang dulu kerja jadi sekertaris sekarang jadi pegawai biasa," bisik orang yang berambut pirang, dia memang sangat tidak suka padaku. "Karma kali, makanya jangan belagu jadi orang," ucap teman yang ada disampingnya. Kupingku terasa panas karena orang itu memanggilku dengan parkataan yang seperti itu. menyebalkan sekali. Awas saja dia mau bermain-main denganku. Aku sudah tidak sabar lagi, lebih baik menghampiri mereka. "Apa maksud kalain, hah?" Aku merasa pada mereka. Enak saja mereka semua ini mengataiku. "Kenapa? Gak terima hah? Hahaha terima nasib aja deh jadi orang," kata orang itu sambil tertawa. Aku tersulut emosi, aku menjambak rambutnya yang pirang itu, temannya ingin membela hingga aku belum melakukan apapun dia langsung terjatuh. Apa-apaan ini kenapa dia langsung terjatuh seperti ini. "Ada apa ini?" Aku menoleh kearah belakang dan ternyata ada bos yang sangat menyebalkan itu. Laki-laki itu menatapku dengan pandangan yang sangat tajam seolah aku melakukan kesalahan yang sangat besar. "Ini Pak, Amira bikin onar lagi. Dia menjambak rambut saya," wanita berambut pirang itu menyalakanku. Sialan mereka, malah mengadu dengan seperti itu. Mentang-mentang mereka tahu kalau hubungan aku dengan bosnya itu memang tidak baik. Terlebih setelah aku diturunkan jabatan seperti ini. "Kamu yang duluan memancingku!" ujarku dengan tidak terima. Enak saja aku diperlukan seperti itu oleh orang munafik seperti dia. Cika adalah nama wanita yang berambut pirang. Dia wanita yang memang tidak suka kepadaku sejak dulu. Tapi aku tidak perduli karena memang tidak penting juga. "Kamu ikut keruangan saya sekarang!" Astaga, sepertinya aku akan mendapatkan masalah sekarang. Sial aku menatap Cika dengan tajam. Namun, wanita itu tersenyum menang karena melihatku dipanggil oleh bos besar. "Awas saja kau!" Tidak suka dengan wanita itu yang terus menghinaku gara-gara pekerjaanku yang turun jawaban. Yah Tuhan, aku harus bagaimana sekarang masuk kedalam ruangan itu. Rasanya berat sekali kakiku terasa begitu sangat lemas sekarang. "Masuk enggak yah?" Bingungku. Akhirnya aku memutuskan untuk mengetuk pintu ruangan ini daripada membuatnya semakin marah nanti itu bisa sangat bahaya. "Permisi Pak Dito." "Masuk!" Aku mendengar suaranya yang mempersilakan untuk masuk. Seketika atmosfer dalam diriku berubah. Ada rasa yang membuatku sedikit takut sekarang. Bersambung

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
191.5K
bc

TERNODA

read
200.3K
bc

Kali kedua

read
219.4K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
235.1K
bc

Terpaksa Menjadi Istri Kedua Bosku

read
18.9K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
32.5K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
78.7K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook