"Permisi."
"Masuk!"
Aku akhirnya memutuskan untuk masuk ke dalam ruangan ini. Begitu aku melangkah ke dalam, terasa jelas perbedaannya. Tempat ini tidak lagi sama seperti dulu. Wajar saja, pemiliknya sudah berganti. Dulu, saat Tuan Luky yang memimpin, setiap sudut ruangan ini selalu terjaga dengan sangat bersih, tertata rapi. Namun sekarang, setelah pria arogan itu menguasai tempat ini, semuanya terlihat kacau. Aku yakin, jika aku mengamati lebih seksama, banyak debu yang menutupi meja, kursi, dan bahkan lantainya.
Suasana semakin tak nyaman saat aku mendengar suaranya yang terdengar dingin dan meremehkan. "Akhirnya kamu datang ke tempat ini," ucapnya sambil menatapku dengan mata yang penuh rasa jijik, seolah kehadiranku hanya gangguan yang tidak diinginkan.
"Sungguh kesialan apa yang membuat saya jadi datang ke sini," kataku santai. Beruntung hanya ada kami berdua saja di ruangan ini, jadi aku lebih bebas mengumpat dengan tenang.
Aku menatapnya. Wajah maskulin dengan rahang tegas dan ekspresi penuh percaya diri. Dia mengenakan jas dan kemeja yang tampak terlalu formal, hampir berlebihan untuk seseorang yang seharusnya menunjukkan kewibawaan tanpa harus menyombongkan diri. Terlebih lagi, dengan posisinya sebagai pemimpin perusahaan ini, sikapnya semakin arogan. Lihat saja bagaimana dia berusaha menunjukan bahwa dia lebih unggul daripada siapapun.
"Kamu tahu alasan saya menyuruh kamu datang ke sini?"
Mana aku tahu lah, malah bertanya balik. Dia juga tidak mengatakan alasan mengapa menyuruhku datang ke sini.
"Tidak," jawabku singkat.
Tapi aku tahu lebih baik dari itu. Perusahaan ini bukan miliknya. Semua orang tahu, dia hanyalah penerus. Yang benar-benar membangun perusahaan ini dari nol adalah Luky. Seharusnya dia tahu diri dan tidak terlalu sombong.
Aku menatapnya dengan tajam, berusaha mengusir rasa ketidaknyamanan yang semakin menggelayuti.
"Ada apa menyuruh saya ke sini?"
Aku berusaha mengontrol emosi, menjaga ketenangan meskipun pandangan tajamnya terus menantangku, seakan ingin melumatku dengan segala perkataan penuh sindiran.
"Jangan pernah mencari keributan di kantor ini."
"Memangnya siapa yang mencari keributan!" elakku dengan kesal.
Aku sengaja berkata ketus pada pria arogan itu. Bahkan aku tidak perduli dia terus saja menatap ku dengan pandangan yang merendahkan. Dia pikir aku wanita matre yang hanya menginginkan hartanya saja. Hello, bahkan aku sangat mandiri buktinya aku kerja ditempat ini. Aku bisa mendapatkan gajih yang besar sebagai sekertaris dulu. Kebutuhanku juga sudah tercukupi, jadi untuk apa aku menginginkan hartanya. Aku tidak serakah itu.
"Tadi saya lihat, kamu sudah membuat onar di perusahaan!"
Laki-laki arogan itu pasti kini akan menyalahkan ku. Padahal aku tidak salah salah sekali. Aku benci dituduh terus dengan apa yang tidak pernah aku lakukan sama sekali. Apa pria arogan itu tidak melihat kearah CCTV? Sudah sangat jelas jika aku tidak salah sama sekali.
"Sudah saya bilang kalau, saya tidak membuat onar. Lagian dia yang mulai duluan. Kenapa malah bela dia hah!" marahku dengan tajam.
"Semua karyawan juga sudah tahu kalau kamu yang membuat onar, Amira. Kenapa kamu melalukan itu? Apa karena kamu diturunkan jabatannya oleh saya!" sindirnya dengan pandangan meremehkan.
"Ini tidak ada hubungannya, lagian si Cika yang membuat ribut duluan, bukan saya."
"Saya gak butuh pembelaan dari kamu. Sebagai hukuman. Kamu harus membersihkan ruangan saya sekarang!"
Aku menatap tajam kearahnya. Tidak terima dengan apa yang laki-laki itu ucapan. Aku disuruh untuk membersihkan ruangan ini. Apa dia becanda? Dia memang sengaja membuat aku tidak betah bekerja di kantor ini.
"Pak Dito gila yah, saya gak mau melakukan itu. Lagian itu yang seharusnya dilakukan oleh seorang office bukan saya!" tolakku dengan kesal. Bisa-bisanya laki-laki itu malah menyuruh aku melakukan hal yang sedikit konyol.
Tentu saja aku menolak dengan mentah perintah dirinya yang menyebalkan itu. Jangan harap aku akan mau menuruti keinginan dirinya.
"Kalau tidak mau, saya bisa menurunkan jabatan kamu lagi. Kamu lupa kalau penguasa di perusahaan ini jadi terserah saya sekarang!"
Tanganku terasa ingin menimpuk kepalanya sehingga pecah. Sifat sombong dan juga arogannya membuat aku semakin benci dengan pria itu.
"Menyebalkan," umpatku dengan kesal.
"Jadi kamu tidak mau hah!" ujarnya dengan nada yang sedikit kesal. Bahkan aku sendiri pun tidak tahu harus berbuat apalagi sekarang.
"Aku tidak mau! Aku pegawai biasa. Bukan office girl," tolakku secara mentah.
Aku jelas menolaknya, apa yang dia lakukan seperti merendahkan ku. Laki-laki menyebalkan ini membuatku sukses darah tinggi. Lihatlah sekarang aku harus menuruti apa yang dia mau.
"Silahkan saja kalau kamu gak mau, artinya kamu gak akan pernah bekerja ditempat ini lagi."
Seringai dari wajah pria itu membuatku semakin merasa benci pada dirinya. Pria itu memang tidak suka padaku, tapi bukan berarti aku bisa direndahkan begitu saja.
"Aku akan bilang kepada Papahmu. Dia pasti tidak akan membiarkan aku untuk keluar dari kantornya." Aku tidak mau kalah begitu saja. Seketika aku berbicara tidak formal lagi dengan dirinya karena kesal.
Biarkan aku tidak suka berbicara formal dengan laki-laki menyebalkan itu.
Dia yang mengancamku maka, aku akan mengancam dirinya. Aku tidak mau dikalahkan oleh dirinya dengan begitu saja. Laki-laki arogan itu harus aku beri pelajaran nanti.
"Hai kamu, berikan pelan itu pada Amari."
Pria arogan inti memanggil seorang laki-laki yang kebetulan akan masuk kedalam ruangan ini. Apa kayaknya tadi? Aku disuruh pel lantai ini? Yang benar aja.
"Iya Pak Dito." seorang OB itu memberikan pelan itu padaku. Sedangkan aku menatap tajam kearah Dika. Pria arogan itu seolah menguji kesabaranku. Aku wanita karir sekarang harus pel lantai layaknya seorang pembantu.
"Kamu gila aku tidak mau!"
"Terserah jika kamu tidak mau, maka saya akan memecat kamu!" Ancaman Dito dengan santai.
Seorang OB pergi dari ruangan pria arogan itu mengibaskan tangannya untuk mengusirnya dari tempat ini. Sombong sekali mentang-mentang dirinya jadi pemilik perusahaan bisa bersikap semena-mena seperti ini. Lihat apa yang akan aku lakukan nanti.
"Cepat laksanakan!"
Jika sudah berkata seperti itu, tidak ada yang berani membantah apa yang dia perintahkan. Aku sangat terpaksa untuk melakukan itu semuanya. Dasar suami arogan? Eh apa yang barusan aku bilang? Aku tidak akan mengakuinya sebagai seorang suami.
Mulai eror nih kepala. Lebih baik aku menuruti apa yang pria arogan ini katakan. Tahu akan berakhir seperti lebih baik waktu itu aku pindah ke perusahaan lain saja yang mau menerima aku apa adanya.
"Sebelah sana belum bersih."
Pria arogan itu menunjuk kearah jendela kaca. Aku akhirnya berjalan kearah sama sambil mengambil kemoceng dan juga lap. Pelan aku tunda dulu karena kaca ini belum dibersihkan. Aku sudah menduganya kalau ini sangat kotor berbeda dengan dulu.
"Bersihkan ini juga, jangan sampai ada debu yang tertinggal."
"Awas saja kau, Dito!" aku mengumpat dengan geram ketika melihat laki-laki angkuh itu menyuruhku melalukan sesuatu.
"Sialan!" umpatku dengan kesal.
Bersambung....